Seorang Musafir Yang Menulis Tentang Perjalanan Kerajaan Sriwijaya Adalah

Seorang Musafir Yang Menulis Tentang Perjalanan Kerajaan Sriwijaya Adalah – Di masa lalu, berita menyebar ke seluruh Arab dan China tentang negara pulau emas yang armadanya menguasai lautan.

Nah postingan kali ini tentang salah satu kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia yang saya pilih dan yang pertama terlintas di benak saya adalah kerajaan Serwijaya.

Seorang Musafir Yang Menulis Tentang Perjalanan Kerajaan Sriwijaya Adalah

Tentu alasan utamanya adalah karena Serwijaya merupakan kerajaan Budha terbesar di Indonesia yang membawa kejayaan bagi bangsa Indonesia. Armada laut yang mereka miliki sangat kuat, sehingga bisa memiliki wilayah laut yang begitu luas, oleh karena itu kerajaan ini disebut kerajaan laut. Raja-raja Sarvajaya selain memiliki pemikiran yang sangat cerdas untuk menjadi negara bahari, juga sangat peduli terhadap rakyatnya. Hal ini terlihat dari titah salah satu raja tersebut yang memerintahkan dibangunnya Taman Sristra sebagai tempat rekreasi masyarakat Sriwijaya.

Makalah Kerajaan Sriwijaya Dan Kalingga

Alasan lain mengapa saya memilih Serbia adalah karena kerajaan ini juga memiliki banyak keunggulan lain di berbagai bidang:

Kerajaan bernama Servijaya ini muncul sekitar abad ke-7 Masehi dan awalnya terletak di Mora Taks, Riau. Namun, setelah Palembang direbut, pusat kerajaan dipindahkan ke muara Sungai Musa, Palembang. Pengaruh kerajaan ini diperkirakan mencapai Bangka, Jambi Atas, Selat Sunda, Selat Malaka, Laut Jawa bagian barat, dan Jawa Barat.

Dalam perjalanannya mempelajari agama Buddha di India, I-Tsing, seorang pendeta dari Tiongkok, singgah di Shi-li-fu-shih (Sriwijaya) selama enam bulan dan mempelajari tata bahasa Paramastra atau bahasa Sansekerta. Belakangan, bersama guru Buddha Sakikirti, ia menerjemahkan Hasanandasastra ke dalam bahasa Mandarin. Kesimpulan I-Tsing tentang Sriwijaya adalah negara ini maju dalam bidang agama Buddha.

Laporan dari Arab mengatakan bahwa ada negara bernama Sriwijaya. Ibu Herdadiya mengatakan bahwa Raja Zebig menghasilkan banyak emas. Berat emas yang diproduksi setiap tahun adalah 206 kg. Inovasi lain disebutkan oleh Alberoni. Dia mengatakan bahwa Zabig lebih dekat ke China daripada India. Negara ini terletak di daerah yang disebut Swarnadwepa (Pulau Emas) karena banyak menghasilkan emas.

Kadatuan Sriwijaya Perjalanan Suci

· Prasasti Kedukan Bukit (605S/683M) di Palembang. Isi : Dapunta Hyang berkembang selama 8 hari dengan 20.000 tentara, setelah itu dia berhasil menaklukkan dan menguasai banyak wilayah. Dengan kemenangan ini, Sriwijaya menjadi makmur.

· Peta Talang Tuo (606 S/684 M) sebelah barat Palembang. Isinya tentang mewujudkan Taman Sriketra Dapunta Hyang Sri Jayanga sebagai tempat rekreasi masyarakat Sriwijaya.

Baca juga  Tolakan Menggunakan Tangan Dapat Dilihat Pada Gerak

· Prasasti Karing Lora (608 M/686 M) di Jambi. Keduanya berisi petisi kepada para dewa untuk perlindungan rakyat dan kerajaan Sriwijaya.

· Prasasti Telang Batu (tanpa tanggal) di Palembang. Itu berisi kutukan bagi mereka yang melakukan kejahatan dan tidak mematuhi perintah raja.

Alwaan Magazine #6:waja’alani Mubarokan Ainama Kuntu By Majalah Alwaan

Srivajaya terletak strategis di jalur perdagangan antara India dan Cina. Selain itu, juga berhasil menguasai Selat Malaka, pusat perdagangan di Asia Tenggara, memberi Sri Lanka kendali atas perdagangan nasional dan internasional. Kepemilikan Sriwijaya atas Selat Malaka sangat penting bagi perkembangan negara maritim Sriwijaya, karena banyak kapal asing mengunjungi Selat Malaka untuk air minum, pasokan makanan, dan kegiatan komersial.

Dalam bidang kebudayaan, khususnya agama, kerajaan Sriwijaya menjadi pusat penting agama Buddha di Asia Tenggara dan Asia Timur. Agama Buddha yang berkembang di Sriwijaya adalah Buddha Mahayana yang salah satu tokohnya adalah Dharmakirti. Beberapa peziarah Buddha berangkat ke India dan tinggal di Sriwijaya. Diantaranya adalah I’tsing.

Dalam perkembangan sejarah Indonesia, Kerajaan Serivajaya merupakan kerajaan yang besar, jaya dan terkenal pada masa lalu. Namun, semua raja yang bukan penguasa meninggalkan prasasti. Raja-raja yang dikenal dengan kerajaan Sarwijaya adalah sebagai berikut.

Pada awal perkembangannya, Kerajaan Sarwijaya memperluas wilayahnya hingga ke daerah sekitarnya. Setelah Palembang berhasil direbut, ibu kota kerajaan Sriwijaya dipindahkan dari Mora Taks ke Palembang. Dari Palembang, Kerajaan Sarvajaya dapat dengan mudah menguasai daerah sekitarnya, seperti Bangka, Jambe Hulu, dan kemungkinan Jawa Barat (Tamanagara). Oleh karena itu, pada abad ke-7 M, Kerajaan Sriwijaya turut menguasai kunci-kunci jalur perdagangan penting, seperti Selat Sunda, Selat Bangka, Selat Malaka, dan Laut Jawa bagian barat.

Kelas 10 Smk Sejarah Indonesia

Pada abad ke-8 Masehi, perluasan kerajaan Seravijaya ke arah utara terutama ke arah Semenanjung Malaya dan Tanah Genting Kara. Tujuan pendudukan Semenanjung Malaya adalah untuk menguasai daerah penghasil lada dan timah. Sedangkan pendudukan Tanah Genting Kara ditujukan untuk menguasai jalur perdagangan antara Cina dan India. Tanah Genting Kara sering digunakan para pedagang untuk menyeberang dari perairan Samudera Hindia ke Laut Cina Selatan untuk menghindari persinggahan di jantung kerajaan Sriwijaya.

Menjelang akhir abad ke-8 M, Kerajaan Sarvajaya menguasai semua jalur perdagangan di Asia Tenggara, baik melalui Selat Sunda dan Malaka, Selat Keramat, maupun Tanah Genting Kara. Dengan wilayah tersebut, Kerajaan Seravija menjadi kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara.

Seorang musafir Cina I-tsing (671 M) melaporkan tentang kerajaan Seravijaya. Laporan selanjutnya berangka tahun 683 M dengan ditemukannya prasasti Kedukan Bukit di Bukit Segutang (dekat Palambang). Prasasti ini menyebutkan bahwa raja bijak pergi ke luar negeri untuk mencari kesaktian. Ekspedisi Raja Serwijaya yang berhasil menaklukan Bangka dan Malaya (di Jambi) merupakan usaha yang besar.

Baca juga  Dwireka Nyaeta

Prasasti Kota Kapur (686 M) yang ditemukan di Pulau Bangka menyebutkan bahwa penduduk Pulau Bangka tunduk pada kerajaan Sarwijaya. Diberitakan pula bahwa raja Sriwijaya melakukan ekspedisi ke Jawa. Ekspansi yang dilakukan Kerajaan Sarvajaya ditujukan untuk menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan Sunda yang merupakan jalur maritim dan perdagangan penting. Kerajaan Seravija menguasai semua selat dalam suksesi suksesi, menjadikannya satu-satunya penguasa jalur perdagangan dunia melalui Asia Tenggara.

Sejarah Kerajaan Tarumanegara

Angkatan laut Kerajaan Seravija yang kuat dapat menjamin keamanan kegiatan pelayaran dan perdagangan. Armada Servija juga bisa memaksa kapal dagang berhenti di pusat atau pelabuhan kerajaan Servija. Akibat ramainya aktivitas kapal dagang, Kerajaan Seravija menjadi tempat pertemuan para pedagang atau pusat perdagangan di Asia Tenggara. Pengaruh dan peran Kerajaan Sriwijaya tumbuh di laut. Namun para pedagang dari Kerajaan Surigaya menjalin kontak dengan Cina/Laut Merah di utara dan Teluk Persia di barat, di luar wilayah Indonesia.

Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan di luar india, terutama kerajaan-kerajaan di India seperti kerajaan Pala (Nalanda) di Benggala dan kerajaan Cholamandala di pesisir timur India selatan.

Dari abad ke-8 M hingga abad ke-11 M, wilayah Benggala diperintah oleh raja-raja dari dinasti Pala. Raja Deva Palladeva (abad ke-9 M) adalah salah satu raja besar. Hubungan Kerajaan Srivajaya dengan Kerajaan Pala sangat baik, terutama dalam bidang budaya dan agama. Kedua kerajaan ini dikaitkan dengan agama Buddha. Banyak biksu dari Kerajaan Sriwijaya belajar agama di Universitas Nalanda. Bukti hubungan baik ini terdapat dalam prasasti Nalanda (860 M). Selain membebaskan lima desa dari pengenaan pajak, prasasti tersebut juga menyebutkan bahwa Raja Balputra Deva diusir dari Kerajaan Salindra karena kalah perang melawan kakak laki-lakinya Paramo-Dhavardani dan kemudian diangkat sebagai raja kerajaan Sarwijaya. Hubungannya dengan kerajaan Pala sedemikian rupa sehingga ia mendapat bantuan untuk memantapkan kedudukannya sebagai raja di Sriwijaya.

Pada awalnya, hubungan kedua raja itu sangat baik. Seorang raja Sanggrama dari Sriwijaya mendirikan sebuah biara (1006 M) di kerajaan Chola bernama Vijayatangavarman untuk menampung para biksu dari kerajaan Sriwijaya.

Sejarah Kerajaan Sriwijaya Dan 4 Penemuan Harta Karun Di Indonesia

Persahabatan antara kedua kerajaan berubah menjadi persaingan perdagangan dan perdagangan. Raja Rajendra Chola, yang memerintah Kerajaan Chola, melakukan dua serangan terhadap Kerajaan Sarvijaya. Serangan pertama pada tahun 1007 gagal. Namun invasi kedua (1023/1024 M) berhasil merebut kota-kota penting dan pelabuhan-pelabuhan kerajaan Sarwijaya/ Raja Sanggrama Vijayatangavarman juga direbut. Penyerangan tersebut tidak mengakibatkan penjajahan karena tujuannya hanya untuk menghancurkan armada Kerajaan Survejaya. Jika kekuatan kerajaan Sriwijaya berhasil ditaklukkan, maka jaringan transportasi perdagangan ke India di kawasan Asia Tenggara bisa berada di bawah kendali kerajaan Chola.

Baca juga  Upaya Pembelaan Menggunakan Tangan Atau Lengan Disebut

Status kerajaan Sriwijaya semakin terdesak akibat munculnya kerajaan-kerajaan lebih besar yang juga berkepentingan dengan dunia perdagangan, seperti kerajaan Siam di utara dan kerajaan Sangasari di timur.

Para pedagang yang melakukan kegiatan bisnis di Kerajaan Sarvajaya segera mengalami kemunduran karena wilayah-wilayah strategis yang dikuasai Kerajaan Sarvajaya jatuh ke tangan kerajaan-kerajaan tetangga. Akibatnya, para pedagang yang melintasi Tanah Genting Kara atau melakukan aktivitas di wilayah Malaya (sudah diduduki Kerajaan Sangsari) tidak lagi melewati wilayah Srivajaya. Kondisi seperti itu jelas mengurangi sumber pendapatan kerajaan.

Karena alasan politik dan ekonomi, sejak akhir abad ke-13, Kerajaan Surigaya menjadi kerajaan kecil dan wilayahnya terbatas di wilayah Palembang. Kerajaan Sarvajaya yang kecil dan lemah akhirnya dihancurkan oleh Kerajaan Majapahit pada tahun 1377.

Travelogue Di Nusantara: Menggurit Sejarah, Menggubah Sastra

Dari penjelasan tersebut, kita dapat melihat bahwa kerajaan ini juga memiliki banyak kekurangan yang menyebabkan kejatuhannya, antara lain:

Ini adalah informasi tentang Kerajaan Sarvajaya. Dari awal kemunculannya hingga kejatuhannya, kita dapat mengambil beberapa pelajaran yang sangat bermanfaat, yaitu: keakuratan artikel ini patut dipertanyakan, dan artikel ini perlu dikaji ulang dan disertakan kredibilitasnya Referensi. Anda dapat membaca diskusi terkait di halaman diskusi. Harap verifikasi keakuratan artikel ini dengan sumber yang dapat dipercaya. Lihat pembahasan artikel ini di halaman pembicaraannya. (Pelajari bagaimana dan kapan harus menghapus template pesan ini)

Untuk informasi selengkapnya, lihat Kebijakan Keamanan dan Protokol Keamanan. Jika Anda tidak dapat mengedit artikel ini dan ingin melakukannya, Anda dapat meminta perubahan, mendiskusikan perubahan yang ingin Anda buat di halaman pembicaraan, meminta untuk membuka blokir, masuk, atau membuat akun.

Surigaya adalah kerajaan maritim bersejarah yang muncul di pulau Sumatra antara abad ke-6 dan ke-12. Kehadirannya memberikan pengaruh besar bagi perkembangan sejarah Asia Tenggara (khususnya di kepulauan barat).

Smk Klas X Smster 2

Jadi nama Sarvajaya berarti “kemenangan”.

Kerajaan sriwijaya adalah, penyebab kemunduran kerajaan sriwijaya adalah, makalah tentang kerajaan sriwijaya, raja kerajaan sriwijaya yang terkenal, materi tentang kerajaan sriwijaya, tentang kerajaan sriwijaya, cerita tentang kerajaan sriwijaya, kitab sutasoma dikarang oleh seorang pujangga kerajaan majapahit yang bernama, pendiri kerajaan sriwijaya adalah, raja yang memerintah kerajaan sriwijaya, pertanyaan tentang kerajaan sriwijaya, artikel tentang kerajaan sriwijaya