Dongeng Sasakala Curug Santri Disebut Oge Dongeng

Dongeng Sasakala Curug Santri Disebut Oge Dongeng – (c) 2012. Hak Cipta oleh Tatang M. Amirin. Siapa pun dilarang menyalin seluruh atau sebagian artikel ini tanpa izin penulis.

Masyarakat dipaksa untuk percaya dan percaya bahwa di Kabupaten Majalengka sekarang ini terdapat Kerajaan Sindangkasih, karena sejarah tercipta entah sejarah apa yang dikaitkan dengan peristiwa (dan nama) alam. Nama Majalengka mungkin masih asing di telinga masyarakat Sunda. Ada nama yang sering membingungkan orang non-Sunda, itu Cicalengka, tapi bukan “lengka” tapi “calengka” (Entah apa maksudnya, mungkin kicalengka, sejenis pohon) . Karena nama asingnya, “kiratabasa”, kemungkinan besar memiliki arti semantik. Yang paling dekat dengan kata “lengka” adalah kata “langka” dalam bahasa Cirebonan, tidak jarang dalam bahasa Indonesia atau Jogjaan (longko = langka atau sangat langka). Ngomong-ngomong, ada sebuah “fakta sejarah” yang terjadi dahulu kala pada masa Belanda yang tidak banyak diketahui masyarakat pasca kemerdekaan, yaitu berdirinya kota Majalengka di kabupaten Sindangkasih. Maka ditulislah legenda Sindangkasih berganti menjadi Majalengka, karena “eso maja” itu “langka” (artinya hilang).

Dongeng Sasakala Curug Santri Disebut Oge Dongeng

Sindangkasih konon sebuah kerajaan (mungkin bercampur dengan kisah Ki Gedheng (Gedhe ing) Sindangkasih (Sedhangkasih ->sedhang = aliran, telaga dan aliran sungai) mempunyai seorang putra bernama Nay (Nyi) Ambet Kasih, sekarang Beber Cirebon. Beber Konon merupakan pelabuhan sungai (dengan bekas) yang menuju ke Kanci yang merupakan pelabuhan laut. Diduga pula dari Sindangkasih itulah Raja Pajajaran berangkat ke Majapahit menurut Dyah untuk mempersunting Hayam Wuruk Rajagaluh stasiun sungai menuju Loji (rumah Belanda – kemungkinan berarti tempat singgah) menghubungkan ke Cimanuk.

Baha N Ajar Bahasa Sunda Kls Vii Semester 2

Tentang Dinasti Sindangkasih Majalengka yang tidak diketahui asal usulnya, tiba-tiba menjadi terkenal dan diperintah oleh seorang ratu cantik berambut panjang. Karena rambutnya yang indah, ia mendapat julukan (nama) Toc Quay. Kadang juga dikenal dengan nama Nyi Ambet Kasih, seperti putranya Ki Gedheng Sindangkasih Beber. Namun ada juga cerita bahwa Nyi Ambet Kasih adalah nama istri Talaga Manggung (Tumenggung Talaga) di Kerajaan (ahli bedah Galuh-Pajajaran atau disebut juga ketumengungan) Talaga. Berikut gambar permainan dari Wikicommons yang menampilkan dua putra dan dua putri (Raden Panglurah dan Dewi Simbarkancana-?).

Saya menduga nama Talaga Manggung sebenarnya adalah Tumenggung Talaga. Dalam majalah dan teks “sastra” lainnya, seringkali terjadi pergantian nama menjadi judul. Perhatikan “Sumpah Palapa” Gajah Mada saat memilih Patih Amangkubumi Majapahit di bawah ini, dimulai dari namanya terlebih dahulu, baru kemudian jabatannya. (Seharusnya Anda mengucapkan Gajah Mada Patih Amangkubhumi-pertama Patih Amangkubhumi Gajah Mada).

Baca juga  Gambar Diatas Termasuk Kelompok Benda Tiga Dimensi Yang Berbentuk

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi menebar keceriaan amuktia palapa, sira Gajah Mada : “Ayo kalahkan nusantaraisaun amukti palapa, ayo kalahkan Oruka Gurun, Ring Seran, Tañjung Pura, Ring Haru, Ring Pahang, Dompo, Ring Bali, Sunda, Palembang, Tuna isun amukti palapa”.

Kata Tumanggung hanya bisa disingkat menjadi “manggung”, seperti halnya kata “adipati” dalam dokumen sering disebut “pati”. Berikut contoh dari Babad Pati (Kabupaten Pati, Jawa Tengah)

Radar Tasik Edisi 22 23 Juni 2012 By Radar Tasik

Fakta sisa Adipati Raden Tambranegara di Pisuanan agung di Majapahit juga terdapat dalam Kitab Babad Pati, disusun oleh K. M. Sosrosumarto dan S. Dibyasudira, terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula adalah: 12 selengkapnya dibaca: ……………………… Tambranegara Pati “Sumewo” maring Majalengka Brawijaya pada bagian kedua. (Adipati Tambranegara “sumewo” atau “sowan” alias menghadap Kerajaan Majalengka alias Majapahit – pada masa raja Brawijaya II).

Tambranegara Pati dalam bahasa sehari-hari sebenarnya berarti Adipati Tambranegara. Jadi mungkin saja dalam banyak babad Talaga tertulis Talaga Manggung……, sedangkan maknanya adalah Tumanggung Talaga…… (Raffles menulisnya

). Pada contoh di atas “Tambranegara Pati….” (Adipati Tambranegara -> Adipati Tambranegara…..). Kalau cerita Tumanggung Talaga ditulis dalam bentuk pupuh yang berakhiran “u” kemungkinan akan (ditulis) menjadi “Talaga Manggung”, misalnya: “Kakocap talaga ‘manggung/angadeg nata narpati/rumeksa bumi talaga/.. ( misal it tahu!).

Gunggung dalam bahasa Sunda Kuna (kuno, bukan modern) juga berarti Atas (keselamatan atau “kebahagiaan modern”). Mungkin juga disebut Talaga Manggung karena di “Talaga” terdapat dua talaga, yaitu talaga bawah dan talaga atas. Kerajaan Talaga berpusat di dekat talaga manggung, yaitu talaga atas (talaga Sangiang), bukan talaga “ranca” atau “rawa” antara Talaga, Cikijing, Cingambul, Rawa, Nagarakembang (nagara kambang; nagara, desa atau kota adalah kumambang, mengambang, di rawa).

Cipada, Padahanten (padhanten), Pagaraji (pagrhaaji), Garawastu (grhavastu), Ciomas, Cidomas ([ci]dwi Omas)

Kembali ke Sindangkasih. Saat itu pemerintahan Sindangkasih masih beragama Hindu. Maka Sunan Gunung Jati (Cirebon) ingin masuk Islam. Maka Pangeran Muhammad dan prajuritnya mengutus (mau perang kan??) ke Sindangkasih untuk meyakinkan Nyi Rambut Kasih agar masuk Islam.

Versi lain mengatakan bahwa di Kerajaan Sindangkasih terdapat buah maja (tidak jelas apakah bijinya sedikit atau semak majanya banyak – pasti sampai di wilayah Maja, di Kulur banyak terdapat kelewih atau sukun, disebut juga kelewih tanpa biji). Banyak warga Cirebon yang menderita sakit. Obatnya hanya ada pada buah maja (buah maja ternyata bisa menyembuhkan demam). Nah, kalau ceritanya seperti itu, pasti di Sindangkasih buah mangga itu hanya ada satu, dan hanya satu atau beberapa buah saja. Masyarakat Cirebon (diucapkan Sunan Gunung Jati) mengutus Pangeran Muhammad untuk meminta bantuan ratu dalam menganugerahkannya buah maja.

Baca juga  Yogyanira Kang Para Prajurit Ateges

Dikisahkan Ratu Cinta jatuh cinta pada Pangeran Muhammad yang cantik. Karena Pangeran Muhammad sudah mempunyai istri (Siti Armilah, juga putri Pendeta Sindangkasih), tentu saja Pangeran Muhammad menolak (dia tidak ingin istrinya menjadi perempuan berlebihan). Nyi Rambut Kasih juga tidak mau masuk Islam. Atau ratu tidak mau memberi buah (saat marah, Pangeran Muhammad menolak). Maka kemudian dia menghilang bersama buah maja yang diinginkan Pangeran Muhammad. Jadi mengapa ratu menghilang? Sebab, mereka meminta buah maja, namun mereka menolak menikah dengan Pangeran Muhammad, karena tidak ingin masyarakatnya menerima Islam! Pabaliut menambahkan, di Sindangkasih ada pendeta yang merupakan ayah Siti Armilah. Mengapa Sunan Gunung Jati berbicara tentang masuknya Sindangkasih ke Islam?! Siti Armilah Istri Sindangkasih yang beragama Islam, mengapa Pangeran Muhammad diutus untuk membuat Sindangkasih masuk Islam, padahal dia adalah “laki-laki Sindangkasih” (padahal dia adalah adik ipar pendeta Sindangkasih dan suaminya menganut Islam Sindangkasih)? !

Lanjut cerita, masyarakat Cirebon bertanya-tanya keesokan harinya, ESO MAJA belum tutup, dan Ratu serta istananya belum ada. Jadi mereka berteriak: “

Misteri Sindangkasih Majalengka

!” Membuat semua orang bingung. Mengapa kita berteriak tentang mangga yang hilang dan bukan tentang ratu yang hilang? Beneran buah maja itu perlu banget, perlukah ratu masuk islam?!! Atau, yang sepertinya hilang adalah buahnya, istananya, ratunya? Yang lebih tidak pasti lagi adalah mengapa kata-kata itu datang dari Wong Grage

!!!” Siapa tahu. Dikenal juga sebagai legenda, yaitu kisah yang mengikuti kondisi alam setempat. Karena nama “melangeka” tidak dikenal dalam bahasa Sunda, maka “dikiratabasa” (bentuk perkiraan dalam bahasa tersebut) berasal dari kata ini.

, yang dianggap hilang oleh masyarakat Majalengka). Padahal – seperti yang kita lihat dari penuturan Pati, Majalengka adalah Majapahit (lengka yang pahit).

Perampok) dari bahasa Sunda Kuna/Jawa yang artinya pahit, Legenda tidak akan muncul. Yaqqin! Majalengka adalah majapahit atau majalangu (dalam bahasa Sansekerta disebut vilvatikta, dari wilwatikta – vilva atau bilva adalah tikta atau lengka atau langu atau yang pahit disebut buah maja alias berenuk – yang manis disebut majalegi). Kerajaan Majapahit dikenal juga dengan nama Majalengka atau Wilwaktikta atau Majalangu. Silakan baca artikel di bawah ini.

Baca juga  Ukuran Tinggi Net Bola Voli Untuk Putra Dan Putri Adalah

Cicalung, Tenjolayar, Palasah

Ini dari Babad Demak Pesisiran (nama Majalengka, Majalangu kita yang menjadi raja antara lain bernama Brawijaya – kita tahu, itulah raja Majapahit).

Raden Ordo jumeneng aji, ing negeri Majalengka, Berawijaya jejuluke, apeputera Berakumara, gumati ing Majalengka, Beraku / 15/ mara asesunu, yang nama Araden Wijaya. (Raden Suruh naik takhta menjadi raja negeri Majalengka dan kemudian bergelar Brawijaya, kemudian menjadi putra Brahmakum(b)ara, juga menjadi raja Majalengka, yang kemudian melahirkan seorang putra Raden Wijaya ) .

Araden Wijaya jasawi, kang nama Kartawijaya, Kartawijaya puterane, kang nama Anggawijaya, punika yang wekasan, tegada perabu Majalangu, kang nama Berawijaya. (Raden Wijaya putra Kartawijaya, dan Kartawijaya putra Anggawijaya, inilah kerajaan terakhir, kerajaannya Majalangu, keduanya bergelar Brawijaya).

Sigegen nata Majapahit, kocapa nata ing Cempa, raja Kunthara namane, ratu kapir binethara, tiga puluh negara bagian Kujing, Kalicare dan Kalikut, Gur bukannya Mulebar. (Kami membiarkan raja Majapahit, khususnya raja Campa, raja Kunthara, raja Kafir Berbetara, memerintah negara-negara Kujing, Kalicare dan Kalikut (Kalkuta?), Gur, dan Mulebar).

Kerajaan Talaga: Melacak Jejak Bujangga Manik (1) Talaga, Sindangkasih, Kabupaten Maja

Menjelaskan? Majapahit sama dengan Majalengka dan Majalangu. Teh Majalengka artinya maja pahit, urang Sunda bilang maja eso nu pait. Tentu saja buah maja yang paling pahit (berenuk! – maja manis sekali bagi kita, sebut saja mojolegi jawa) ada di daerah Maja (Loh Maja, Luh Maju), bukan di Sindangkasih. Mengapa Pangeran Muhammad “memaksa” dirinya meminta buah-buahan di Sindangkasih? Kenapa tidak ke Maja, ke Dalem Lumaju Agung (Dalem Lohmaja Agung)?

.” Narator menegaskan bahwa sejak saat itu telah ada candrasangkala seperti itu. Dan pemilik cerita pun dengan tegas menegaskan bahwa sejak saat itu Sindangkasih berubah menjadi Majalengka karena sebelumnya ada seruan “majae langka”.

Candrasangkala merupakan lambang peristiwa (lima peristiwa) yang dikodekan dalam kata-kata. Kata-kata ini mengandung beberapa arti. Misalnya kata “pandawa” mengungkapkan (artinya) lima, karena pandawa itu ada lima. Kata bumi melambangkan angka pertama, karena hanya ada satu bumi. Kata ilang atau lenyap mengacu pada indeks 0 disebut juga batal (ilang, lenyap artinya kosong, tidak ada). Sindang cinta sugih mukti adalah sindang = 2, cinta = 1, sugih = 4, mukti = 1. Dibaca mundur dari kanan (dari mukti) menjadi 1412. Ini mengacu pada tahun Saka atau tahun Jawa. Untuk membuat tahun Masehi, ditambahkan angka 78 sehingga menjadi tahun 1490. Benar atau tidaknya angka ini sulit bagi saya untuk menentukannya.

Kalau disebut candrasengkala maka selalu dikaitkan dengan tahun yang menggunakan aliran bulan (candra) sebagai mimpinya, maka tahun Jawa atau tahun Saka. Jika menggunakan aliran matahari (disebut sengkalan), maka

Kepemimpinan Leluhur Sumedang Dalam Tradisi Lisan