Bangunan-bangunan Megalitik Pada Dasarnya Menggunakan Bahan Dasar

Bangunan-bangunan Megalitik Pada Dasarnya Menggunakan Bahan Dasar – Benteng atau tembok kota sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Benteng ini sudah terkenal sejak zaman klasik hingga zaman pendudukan Jepang. Benteng telah menjadi kebutuhan dasar terutama bagi kota-kota besar yang memiliki kepentingan politik dan ekonomi untuk menjaga perdamaian di kota tersebut. Karena keamanan suatu kota menentukan perkembangan politik dan ekonominya.

Penemuan bangunan benteng yang mengelilingi area seluas 135 hektar ini ditemukan di Kabupaten Lumayang, Jawa Timur. Benteng ini terbuat dari batu bata dengan ukuran yang sama dengan yang ada pada abad ke-13. Menurut Serat Pararaton, Nambi kembali ke Lamayang dan membangun benteng di lembah tersebut pada tahun 1307. Benar jika sesuai dengan data arkeologi. Pada abad ke-13, masyarakat mulai mengenal sistem benteng. Terletak di Lumayang, benteng ini dibangun mengikuti pola aliran sungai-sungai besar. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-13, masyarakat Lumayang sudah mempunyai pemahaman yang baik tentang cara membangun benteng, seperti mengikuti pola alam. Selain itu, dibangun benteng di setiap sudut kelokan sungai yang berfungsi sebagai menara observasi sekaligus lokasi penyerangan musuh di luar benteng. Belakangan, Benteng Vrdeburg di Yogyakarta pada abad ke-18 juga menggunakan skema serupa dengan benteng ini, yaitu memberikan pembatas berupa parit di sekeliling pintu masuk benteng.

Bangunan-bangunan Megalitik Pada Dasarnya Menggunakan Bahan Dasar

Bukti adanya benteng di nusantara dari masa Klasik muncul kembali sekitar dua abad setelah benteng Lumayang. Sumber berita Tiongkok abad ke-15, Ying Yai Sheng Lan, menyatakan bahwa Tuban adalah salah satu dari empat kota besar tak berdinding di Pulau Jawa (Mills, 1970: 86). Informasi pada zaman selanjutnya, Pararaton dari abad ke-17 menyebutkan bahwa kota Tuban dikelilingi oleh tembok kota. Pertumbuhan tersebut menunjukkan perkembangan kota Tuban yang mengalami perubahan letak dan fungsi. Selain tembok kota, Tuban mungkin merupakan pusat pemukiman penting atau setidaknya penting bagi kekuatan politik dan ekonomi. Terlebih lagi dengan dibangunnya tembok kota ini menunjukkan bahwa Kota Tuban merupakan daerah yang cukup rentan karena dapat dikatakan bahwa Kota Tuban merupakan pintu gerbang bagi kekuatan-kekuatan luar yang ingin menembus pusat pusat tenaga listrik yang letaknya jauh ke pedalaman. Jelas sekali bahwa tembok di sekeliling kota dibangun untuk melindungi kekuatan dari serangan luar. Perubahan struktur kota ini nampaknya dipengaruhi oleh kedatangan para pedagang dari berbagai belahan dunia termasuk negara-negara barat.

Baca juga  Sebutkan 3 Kewajiban Siswa Di Sekolah

Makalah Zaman Batu Di Indonesia

Ketika penjelajah Eropa memasuki nusantara pada abad ke-15 dan ke-16, kita dapat menemukan informasi mengenai benteng atau tembok kota yang dibangun di kota-kota pelabuhan utama. Menurut beberapa penggalan perjalanan yang ditulis oleh Pirard de Laval yang menaiki kapal perang kecil Portugis yang membawanya ke Kepulauan Maluku dan singgah sebentar di Banten pada tahun 1609, “Banten adalah kota besar yang berpenduduk cukup banyak. … Kota itu dikelilingi oleh tembok bata setebal lebih dari dua kaki. Di setiap langkah, di dekat tembok, rumah-rumah yang sangat tinggi, dibangun di atas tiang kapal, digunakan untuk pertahanan kota, sebagai pengamatan, dan untuk menyerang musuh dari tempat-tempat tinggi … Lima kotak, sebenarnya lebarnya, setiap gua berisi semua jenis barang dan makanan Memiliki pasar yang terjangkau, sehingga kehidupan di sana terasa sangat menyenangkan… Ada sejumlah rumah untuk ekspatriat di luar tembok. Ketika melantik Sultan Haji sebagai Sultan Bantan, VOC membangun benteng kecil untuk benteng guna mengawasi Sultan Haji dengan lebih baik. Di sini kita dapat mengamati fungsi benteng yang tidak hanya sebagai tembok kota, tetapi juga mempunyai arti penting dalam organisasi sosial masyarakat dan mempunyai arti politik bagi pemerintah daerah.

Salah satu benteng yang unik adalah Benteng Ujung Pandang atau biasa disebut Benteng Rotterdam pada masa penjajahan. Dibangun pada tahun 1545 atas perintah Raja Goa ke-9, benteng ini awalnya terbuat dari tanah liat. Namun pada masa pemerintahan Raja Goa ke-14, pembangunan benteng ini digantikan dengan batu-batu padat yang digali dari perbukitan karst Kabupaten Maros. Awalnya benteng yang dikenal juga dengan nama Benteng Panjua ini merupakan benteng yang digunakan sebagai tempat kedudukan para Katak Kerajaan Goa. Namun setelah benteng tersebut diserahkan kepada Belanda, benteng tersebut berubah fungsi dan menjadi pusat penyimpanan rempah-rempah di Indonesia bagian timur.

Benteng di Maluku dibangun secara bergantian oleh Portugis, Spanyol dan Belanda. Setelah berhasil mengusir Portugis dari Maluku, benteng-benteng Portugis dikuasai oleh penguasa Kerajaan Tidore. Pada tahun 1605, Belanda berhasil menguasai perairan Maluku dan merebut benteng Portugis di Amboina. Sementara itu, Spanyol kembali merebut kekuasaan di Ternate yang berujung pada perang dengan Belanda. Pada tahun 1607 Belanda berhasil merebut Ternate dan mendirikan benteng untuk menghadapi Spanyol di Tidore.

Baca juga  Iringan Musik Yang Mengiringi Lagu Yang Bernada Diatonis Minor Biasanya

Dalam sejarah kolonial Pulau Jawa, Benteng Wredeburg merupakan salah satu benteng penting sebagai kesaksian sejarah kolonial Indonesia. Pada awal pembangunannya, atas permintaan Belanda, Sultan Hamengkubuwono membangun sebuah benteng yang sangat sederhana berbentuk persegi. Di keempat penjuru dibangun pos penjagaan yang disebut Seleka atau Bastia. Pada awal pembangunannya, kondisi benteng masih sangat sederhana. Dindingnya terbuat dari tanah yang diperkuat dengan tiang penyangga yang terbuat dari pohon kelapa dan gula. Bangunan bagian dalam terbuat dari bambu dan kayu jerami. Juga, atas saran V.H. Ossenberg, benteng tersebut diperkuat menjadi bangunan yang lebih permanen. Pada tahun 1867, setelah Gempa Besar Yogyakarta, dibangunlah parit di sekeliling pintu masuk barat benteng. Benteng ini menampung markas perwira Belanda, markas tentara, depo perbekalan, rumah sakit, dan rumah kos. Pada masa pendudukan Jepang, Benteng Werdeburg menjadi gudang senjata sebelum didistribusikan melalui pos, serta menjadi markas tentara Jepang dan pusat penahanan politisi Belanda, Indo-Belanda, dan Indonesia yang menentang pemerintahan Jepang di Indonesia.

Situs Gunung Padang (2): Ilmiah Itu Cantik Dan Baik Hati

Benteng ini terutama berfungsi sebagai tempat berlindung selama masa perang. Padahal, jika kita mengacu pada definisi umum benteng, maka yang dimaksud adalah bangunan untuk keperluan militer, yang dirancang khusus sebagai sistem pertahanan pada peperangan di masa lalu. Namun seiring berkembangnya benteng, fungsinya berubah tidak hanya sebagai posisi pertahanan, tetapi juga dalam banyak hal lainnya.

Menurut Marihandono (2010), sesuai dengan tujuan pembangunannya, benteng berfungsi sebagai tempat pertahanan sekaligus tempat perlindungan bagi masyarakat yang mendiaminya. Diambil dari Wikipedia, bangunan kastil juga digunakan sebagai pakaian militer yang mirip dengan castellam Romawi dan berfungsi sebagai menara pengawas untuk menjaga jalur tertentu yang digunakan musuh untuk menyerang. Sedangkan dari gambaran benteng Indonesia yang telah dijelaskan di atas, benteng juga berperan sebagai salah satu bentuk legitimasi kekuasaan pada suatu wilayah tertentu. Artinya untuk membangun kekuasaan atas suatu wilayah tertentu, sekelompok orang atau kelompok akan membangun benteng. Hal ini tentu tidak terkecuali beberapa benteng yang sengaja ditempatkan di daerah/atau kabupaten terdepan dan beberapa benteng yang dibangun berdasarkan kontrak dengan pemerintah setempat. VOC membangun benteng di Batavia sebagai bukti dominasi mereka dalam perekonomian perdagangan rempah-rempah di pelabuhan tersebut. Dan apa yang terjadi ketika VOC meninggalkan penduduk desa dan membangun benteng kecil. Tujuan didirikannya Benteng Spelwijk adalah untuk mengikuti jejak Sultan Haji yang diangkat menjadi Raja/Sultan Kesultanan Banten oleh Belanda. Kehadiran kubu VOC di Kesultanan Banten menandakan dominasi kekuasaan VOC di dalam Kesultanan, dan mengingatkan kita bahwa Sultan Haji mampu naik ke Kesultanan dengan bantuan VOC. Oleh karena itu, keputusan Sultan tersebut tentunya menguntungkan VOC, terutama dalam hal monopoli perdagangan.

Baca juga  Apa Pengaruh Kondisi Geografis Terhadap Pakaian Adat

Dalam pertempuran antara pasukan Belanda dengan Raja Ternate, benteng juga dapat dilihat sebagai wujud hegemoni suatu daerah, bentenglah yang berperang. Begitu pula ketika Belanda berusaha menguasai kerajaan Tidore, Belanda terlebih dahulu menyerang benteng-benteng yang dikuasai Spanyol. Hal ini dapat dipahami sebagai gambaran perang, dimana pihak yang menyerang akan mempertahankan diri di dalam bentengnya, dan ketika benteng tersebut direbut oleh pihak yang menyerang, maka pihak yang kalah dengan sendirinya akan diusir dari daerah tersebut dan mundur ke bentengnya yang lain. Lindungi mereka dengan tempat yang aman agar tidak diserang lagi. Lambat laun, jika Belanda mendesak Spanyol masuk ke dalam bentengnya, Spanyol yang tidak mampu mempertahankan bentengnya, otomatis akan meninggalkan Tidore ketika seluruh benteng Spanyol jatuh ke tangan Belanda, sehingga secara tidak langsung menyerahkan kendali wilayah Tidore kepada Belanda. pasukan. .

Di sisi lain, benteng juga berperan sebagai penghubung aktivitas masyarakat seperti pusat perbelanjaan dan pusat keramaian. Seperti tertulis di Voyage, Banten merupakan kota pelabuhan yang menjadi pasar segala jenis barang. Artinya roda perekonomian berjalan dengan baik dan lancar. Hal ini yang kemudian memacu minat orang asing untuk berkunjung ke Pelabuhan Bunton. Dalam hal ini terdapat tanda-tanda status sosial antara penduduk lokal dan/atau penduduk dengan orang asing. Hal ini terlihat dari adanya rumah-rumah di luar tembok kota/benteng yang diperuntukkan bagi orang asing. Artinya meskipun benteng ini terbuka untuk perdagangan dengan semua bangsa, namun dalam kehidupan sehari-hari benteng menjadi batas yang jelas tergantung status masing-masing penduduknya. Benteng ini juga dapat dilihat sebagai pusat perdagangan, terlihat dari berkembangnya aktivitas benteng Ujung Pandang yang awalnya digunakan sebagai markas militer Kerajaan Goa dan kemudian menjadi pusat penyimpanan rempah-rempah di sebelah timur.

Ptk, Peningkatan Hasil Belajar Menggunakan Sal Siswa Kelas Viia Smpn 1 Benua Lima

Letak benteng di Indonesia memang unik. Benteng dapat ditemukan di pantai selatan, mis

Dasar hukum izin mendirikan bangunan, bangunan di dasar laut, dasar dasar konstruksi bangunan, bangunan misterius di dasar laut, koefisien dasar bangunan, dasar arsitektur bangunan, pemanfaatan lift pada bangunan bertingkat menggunakan rangkaian motor listrik, bangunan megalitik, gambar bangunan megalitik, bangunan dasar, dasar hukum pajak bumi dan bangunan