Suku Bangsa Brunei Darussalam

Suku Bangsa Brunei Darussalam – Artikel ini perlu dibersihkan agar memenuhi standar Wikipedia. Tidak ada alasan yang diberikan. Silakan kembangkan artikel ini sebaik mungkin. Penyuntingan artikel dapat dilakukan dengan menghilangkan atau membagi artikel menjadi beberapa paragraf. Jika masalah ini sudah diperbaiki, hapus templat ini. (Pelajari bagaimana dan kapan menghapus templat pesan ini)

Suku Kedayan/Kadayan merupakan salah satu dari 7 suku asli Brunei. Ke 7 suku tersebut antara lain suku Kedayan, suku Brunei (atau Melayu Brunei), dan lain-lain. Suku Kedayan sering disebut Melayu Kedayan, karena secara linguistik termasuk dalam rumpun bahasa Melayu setempat. Beberapa suku Kedayan bermigrasi ke Sarawak dan Sabah. Populasi Kedayan adalah sekitar 240.000 jiwa.

Suku Bangsa Brunei Darussalam

Bahasa Kedai dianggap sebagai salah satu dialek Melayu Brunei. Dalam arti lain, Kedayan juga mencakup manusia batiniah atau manusia bumi. Nama lama suku Dusun di Brunei disebut juga Kedayan atau Sang Kedayan. Sang Kedayan adalah kata yang digunakan untuk membedakan antara “orang laut” (pesisir) dan orang darat (kedayan), dan Kedayan Islam/Kedayan Melayu dipercaya berkerabat dengan suku Dayak Khan(d)ayan Kalimantan Barat yang menyebar ke utara. pesisir Kalimantan hingga Sipitang. , Sabah. Sedangkan di arah sebaliknya, suku Banjar dari Kalimantan Selatan menyebar ke utara dari Kalimantan hingga Kenigau, yaitu desa Banjar Kenigau yang terletak di pedalaman Sabah di tengah-tengah suku Dayak Dusun dan Dayak Murut.

Suku Asal Wanita Cantik Di Dunia, Nomor 7 Kamu Pasti Tahu

Suku Kedayan merupakan salah satu bangsa yang tinggal di Mir. Ia diyakini berasal dari Brunei, terutama dari masyarakat Kedai di daerah Bekenu. Selain itu, masyarakat Kedayan juga dapat ditemukan di Sarawak bagian utara, pesisir timur Sabah, dan Labuan. Bahasa yang digunakan adalah Kedaiyan (bahasa “sebenarnya” Brunei).

Masyarakat Kedai di Labuan bukanlah masyarakat pesisir dan cenderung menetap di pedalaman. Rumah-rumah di desa ini dibangun cukup berdekatan, berbentuk cluster, dengan radius taman bercabang.

Menurut penelitian, Kedayan merupakan bangsa campuran masyarakat Dayak Jawa dan Brunei di Ponorogo, dimana Sultan Brunei ke-5 yaitu Sultan Bolkiah (1473-1521) sering berkunjung ke wilayah nusantara seperti Jawa, Sumatera, termasuk Filipina. . Dan di tanah Jawa, Baginda sempat melihat aktivitas masyarakat Jawa yang rajin bercocok tanam dan bercocok tanam serta dikenal sebagai masyarakat agraris (makanannya banyak menghasilkan buah-buahan), sehingga Baginda segera mengajak mereka untuk menetap di Brunei. Setelah banyak pekerjaan pertanian dilakukan di Brunei dan hasilnya banyak, Yang Mulia membagikan hadiah. Dari sinilah bermulanya ikatan kekerabatan dan persaudaraan masyarakat Jawa Ponorogi melalui perkawinan campur dengan masyarakat Melayu Brunei, sehingga saat ini banyak suku Kedayan yang bermukim di wilayah Temburong, Tutong, Belait dan Muara (Yerudong). Lalu mereka pindah, ada yang menetap di Sabah dan Sarawak.

Baca juga  Berikut Ini Bahan Yang Digunakan Untuk Membuat Spanduk Adalah

Pada tahun 144 M, Fa Xian, seorang biksu Buddha dari Tiongkok, tinggal di pulau Jawa dan tinggal di sana selama lima bulan [perhatikan bahwa dahulu] Kalimantan (Kalimantan) disebut Jawa Besar dan pulau Jawa disebut Jawa Kecil. Disebut juga Varuna Dwipa dan Java Dwipa.

Rangkuman Keadaan Sosial Di Brunei Darussalam

Mungkin yang disebut pulau jawa adalah pulau kalimantan atau kalimantan. Jawa bukanlah suku Jawa yang dimaksud di sini, melainkan sebuah negara yang dinamai oleh orang luar dengan nama Pulau Kalimantan (Kalimantan). Jawa Kecil kemungkinan besar adalah pulau Jawa saat ini.

Pulau Kalimantan sangat kaya akan bahasa. Terdapat ratusan jenis bahasa di Kalimantan, dan beberapa di antaranya mulai menghilang. Berdasarkan teori linguistik, negara-negara yang banyak terdapat bahasa yang berbeda-beda kemungkinan besar merupakan negara asal bahasa-bahasa yang digunakan di nusantara, yaitu Kalimantan atau Borneo merupakan rumah leluhur masyarakat nusantara tersebut.

Anggapan bahwa suku Kedayan berasal dari Pulau Jawa dan dibawa ke Brunei oleh Sultan Bolkiah dibantah dan tidak disetujui oleh sebagian besar tokoh Kedayan. Pasalnya dalam cerita rakyat Sarawak khususnya suku Melanau, suku Kedayan sudah ada di Brunei sebelum kedatangan Alak Betatar, sekitar tahun 1300. Menurut sejarah, orang Kedai bukanlah orang Melayu dan menjadi orang Melayu ketika Kesultanan Brunei berdiri. Padahal, jika melihat puisi Awang Semaun, masyarakat Kedayan sebenarnya sudah menetap di Brunei sejak abad ke-14. Mereka konon membantu tentara Johor merebut putri burung Pingai yang diambil Awang Semaun menjadi istri Alak Betatar.

Bahkan sebagian besar tokoh budayawan Kedayan sendiri menolak teori Jawa tersebut dan menerima kemungkinan bahwa Kedayan berasal dari Kalimantan atau istilah Jawa mengacu pada wilayah Kalimantan yang dipengaruhi oleh suku Mayapahit Jawa.

Suku Suku Austronesia

Bahkan ada yang mengatakan bahwa suku Kedayan berasal dari Kutai. Menariknya, cerita rakyat Kedayan Laila Menchanai mirip dengan cerita Puteri Junjung Buih, cerita mitos kerajaan Kutai.

Baca juga  Bagaimanakah Sifat Dari Tokoh-tokoh Dalam Cerita Nelayan Dan Ikan Mas

Jika kita melihat struktur dan kosa kata bahasa Kedai di Miri, Brunei, Sabah dan sebagian Kalimantan Timur, terlihat jelas bahwa Kedai bukanlah orang Melayu. Mereka merupakan suku asli Kalimantan yang kini sudah banyak memeluk agama Islam.

Kata Melayu untuk kata Melayu Kedayan bersifat bias karena adanya pengaruh Islam terhadap suku tersebut, sehingga istilah “Bahasa Melayu Kedayan” diciptakan atau diciptakan dalam konteks politik. Namun banyak warga Kedayan yang menganggap dirinya berbeda dengan suku Melayu, padahal mereka menganut agama yang sama, yaitu Islam.

Dalam perkembangan Malaysia di negara bagian Sarawak misalnya, suku Kedayan tampil sebagai suku tersendiri dan bukan bagian dari suku Melayu. Suku Melanau.

Geografi Regional Negara Brunei Darussalam

Sebenarnya Suku Kedayan/Kandai yang ada di Brunei merupakan penduduk asli Kalimantan yang beragama Islam, namun perlu diketahui juga bahwa Suku Kedayan/Kandai tidak hanya terdapat di wilayah Brunei, Miri, Kuala Belait, Tutong, Temburong, Sabah. , Kalimantan Timur , namun nama Kedayan juga ada di Kabupaten Landak, Bengkayang, Sangau, Sambas dan Kubu Raya di Kalimantan Barat-Indonesia. Sebaliknya, suku Kedayan di Kalimantan Barat menganut agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan. Tidak ada perbedaan linguistik yang signifikan antara suku Kedayan di Brunei dengan suku Kedayan di Kalimantan Barat, dimana kosakata kedua bahasa tersebut sangat mirip dan hampir 99% sama. Uniknya, masyarakat Kedai di Kalimantan Barat lebih suka menyebut dirinya Dayak. Dari segi bahasa, Kedayan di Brunei dan Kadayan di Kalimantan Barat mempunyai banyak kemiripan, hanya saja Kedayan di Brunei lebih lekat dengan nama “Kedayan Melayu”.

Hal ini dapat dimaklumi karena pengaruh Islam begitu besar pada masanya. Sebelum Islam ada di Kalimantan, hampir seluruh pulau Kalimantan menganut agama Hindu, yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Kutai, yang berarti tidak ada Islam, tidak ada Kristen, dan tidak ada penyebutan bahasa Melayu atau Dayak.

Kedua nama “Melayu dan Dayak” itu sendiri merupakan eksonem atau nama yang diberikan oleh pihak luar kepada suku Kalimantan itu sendiri, artinya masyarakat Kalimantan tidak boleh terpecah belah dengan kedua istilah tersebut, karena semuanya berasal dari suku yang sama. Perbedaan agama dan label etnis yang kemudian melekat justru memecah belah penduduk Kalimantan.

Saya mengatakan demikian karena ayah saya berasal dari suku Kandayan Kalimantan Barat. Ketika saya membaca kamus Kyad-Banjara-Bahasa Indonesia, terlihat jelas bahwa suku Kyad di Brunei mempunyai perbendaharaan kata yang sangat mirip, hanya saja kepercayaan kedua Kyad tersebut sekarang berbeda, yang satu Islam dan yang satu lagi Kristen.

Baca juga  Orang Yang Kikir Selalu Takut Menjadi

Keunggulan Negara Negara Asean: Indonesia, Malaysia, Singapura

Hal inilah yang mendasari saya mengedit artikel ini bahwa Kayak Dayak Kalimantan Barat mempunyai banyak kemiripan dengan Kayak Dayak Brunei. Jadi benar juga bahwa Kyat mungkin pernah mendominasi daratan Kalimantan jauh lebih awal dibandingkan suku lainnya, karena jelas bahwa bahasa Banjar juga memiliki banyak kemiripan dengan bahasa Kyat di Kalimantan Barat dan Brunei. Artinya jelas sekali bahwa pada suatu waktu suku Kyat berjaya di seluruh Pulau Kalimantan. Terjadi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan dan Barat, serta sebagian Sarawak dan Brunei.

Jika kita ingin menyatukan kembali warisan suku Kyad, janganlah kita saling memandang keyakinan masing-masing karena boleh jadi kita mempunyai kepercayaan atau agama dan boleh saja kita tinggalkan, namun mungkinkah darah suku Kyad hilang dari tubuh kita?

Sekarang kita semua harus bisa menerima perbedaan ini, karena Kyat bisa Muslim dan Kristen, tidak ada yang salah dengan itu. Apa artinya? maksudnya masyarakat Kandai adalah Kyat. Pentingkah untuk mengetahui bersama siapa sebenarnya suku Kandai?

Pakaian adat yang digunakan masyarakat Kedayan berwarna hitam dengan pinggiran berwarna merah, warna ini banyak dipengaruhi oleh pakaian adat Penadon Ponorogy yang merupakan nenek moyang suku Kedayan. Saat itu, petani asal Ponorogi didatangkan oleh Sultan Bolkiah V sebagai petani pilihan terbaik untuk dilatih teknik pertanian di Brunei.

Kolaborasi 3 Negara Sekaligus, Intip 6 Momen Mengesankan Kenduri Seni Melayu 2022 Di Sini!

Selain pengaruh bahasa Melayu yang dipelajari masyarakat Kedayan sebagai lingua franca, huruf vokal o dan e hampir tidak ada dalam kosa kata Kedayan. Contoh:

Vokal o hanya ada jika digabungkan dengan konsonan r, seperti talo untuk “telur”, dengan o berfungsi sebagai pengganti konsonan. Konsonan Melayu yang dipertahankan di Kedai adalah f, q, r, v, z (x tidak ada dalam abjad Melayu). Namun, konsonan r yang hilang adalah salah satu huruf yang paling jelas terlihat. Tergantung pada bunyi dan kombinasi hurufnya, kata Kedayan akan berbunyi seperti ini:

Selain mengikuti sistem ortografi dasar Melayu, yang menetapkan bahwa semua kata Pinzaman harus mempertahankan bunyinya semaksimal mungkin, bahasa Kedayan hanya menggunakan 18 huruf tersebut.

Di sini terlihat jelas bahwa bahasa Kadayan, seperti halnya bahasa-bahasa Asia Tenggara lainnya, “berbeda dengan bahasa Melayu”, artinya bahasa Kadayan berbeda dengan bahasa Melayu.

Iraw Adat Tidung Di Nunukan Dihadiri Perwakilan Tiga Negara

Brunei darussalam airlines, wisata ke brunei darussalam, suku bangsa di brunei darussalam, brunei darussalam, kuala belait brunei darussalam, wisata brunei darussalam, paket wisata brunei darussalam, tour brunei darussalam, hotel di brunei darussalam, liburan ke brunei darussalam, universiti brunei darussalam, hotel brunei darussalam