Si Pitung Mempunyai Watak

Si Pitung Mempunyai Watak – Koleksi Wayang Golek dari cerita Si Pitung merupakan milik Museum Wayang yang dibuat pada tahun 2001 oleh Tizar Purbaya. (Sumber gambar: /FSI)

Siapa yang tidak kenal dengan gambar Si Python? Bagi Anda yang mengaku sebagai anak asli Batavia, pasti mengenal baik pejuang tanah Batavia ini melalui cerita dan film orang tua serta pertunjukan budayanya.

Si Pitung Mempunyai Watak

Wayang Golek Betawi merupakan seni budaya yang menceritakan kisah Si Pitung. Kisah-kisah yang diceritakan dalam wayang ini berasal dari kisah-kisah Tana Betawi, seperti

Pdf) Kajian Karakter Rupa Dongeng Sang Kancil Pada Media Komunikasi Visual

Wayang sangat penting sebagai sarana pengembangan seni dan budaya, sebagai sarana pelestarian kekayaan lokal, serta sarana hiburan seru dan upaya melestarikan budaya lokal di era digital ini.

Meski kini Wayang belum banyak dipamerkan di publik, namun bagi yang tertarik dengan seni tersebut, Anda bisa melihatnya dengan mengunjungi Museum Wayang di Kota Tua, Jakarta.

Si Pitung adalah orang yang putus asa dan rendahan dalam masyarakatnya. Adik yang sebagai tokoh agama yang senang melindungi kaum lemah dan tertindas, jago silat ini menjadi wakil dan teladan bagi masyarakat Betawi.

Nama asli Pitung adalah Solikhan. Pada tahun 1892, awalnya ia dijuluki Si Bitoeng atau Pitang hingga akhirnya dikenal dengan nama Si Pitoeng. Ia dilahirkan di Rawabelong, daerah Pengumben yang sekarang berada di sekitar stasiun kereta api Palmera. Ayahnya bernama Bung Piung dan ibunya bernama Mbak Pinah.

Cerita Dongeng: Pengertian, Jenis, Ciri Ciri, Fungsi, Unsur & Contohnya

Si Pitung bersekolah di pesantren yang dikelola oleh Haji Naipin (pedagang kambing). Kata Pitung sendiri merupakan nama panggilan yang berasal dari bahasa Jawa Pituan Pitulung yang dapat diartikan sebagai guru yang suka menolong.

Jika Robin Hood populer di dunia barat, maka Betawi memiliki Si Pitung sebagai pahlawan cerita Betawi terdahulu yang dikenal sebagai bajak laut. Namun, pendapatan dari perampokan digunakan untuk membantu orang sakit, lemah dan tertindas.

Kisah keberanian Si Pitung melawan perusahaan Belanda menjadi kisah inspiratif yang masih mendapat tempat di hati masyarakat Betawi, sehingga kisahnya dijadikan cerita menarik dalam banyak pertunjukan Wayang Golek Betawi.

Dikenal luas di masyarakat karena identik dengan gambaran jiwa cantik dan seksi. Apalagi sejak diangkat menjadi serial televisi pada tahun 1993, kisah kisah legendaris ini berhasil menarik perhatian masyarakat.

Baca juga  Botol Gelas Dan Vas Bunga Merupakan Benda

Buku Komik Lokal, Legenda, Sejarah

Dalam Wayang Betawi, tokoh Mariam Si Manis Jembatan Ankol berbeda dengan cerita serialnya, yaitu seorang perempuan yang mengenakan gaun batik berwarna coklat dan selendang berwarna merah muda dengan sarung batik.

Ditulis oleh Muhammad Jaruki dan diterbitkan pada tahun 2010 oleh Pusat Bahasa Jakarta Kementerian Pendidikan Nasional, Maryam menampilkan dirinya sebagai seorang gadis yang tidak lagi memiliki orang tua. Setelah itu, ia menjadi gadis cantik dan menawan, ia diadopsi oleh keluarga kaya.

Namun sehari setelah melafalkannya, banyak anak muda yang menghadangnya di depan Jembatan Ankol. Jembatan Ankol dulunya merupakan jembatan batu yang terletak di Jakarta Utara. Jembatan ini terkenal bukan karena arsitekturnya, melainkan karena kisah Maryam.

Maryam meninggal di tempat ini akibat kekerasan seksual yang dilakukan sekelompok pemuda koruptor. Singkat cerita, semangat Si Manis Jembatan Ankol membalas dendam kepada seluruh pemuda hingga semuanya tewas mengenaskan.

Ulangan Harian Cerita Fiksi Kls 8

Sekadar catatan, meskipun Wayang Golek dianggap sebagai kesenian yang berasal dari Thana Pasudan, namun Wayang Golek juga berkembang menjadi kesenian Betawi karena ikatan budaya yang erat.

Mengutip informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wayang Golek Lenong Betawi diciptakan oleh Tizar Purbaya. Wayang Golek ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 2001 di Jakarta. Ide veyang betavi tidak muncul sendirian. Tyzer, seorang pengrajin dan pedagang barang antik, tertarik dengan Wayang.

Ia pernah belajar seni lukis pada Aa Him di Bogor. Teazer juga telah melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk mempelajari seni waang. Ia belajar seni pembuatan wayang dari Jepang. Dengan keahliannya, Tyzer membuka booth di Pasar Seni Ankol pada tahun 1978.

Sepeninggal Tizar pada April 2015, panggung Wayang Golek diserahkan ke tangan putra Tizar, Reza Purbaya. Ia mengenal Wayang Golek sejak kecil, dan saat berjalan-jalan di desa, ia melihat ayahnya sebagai seorang wayang Golek Betawi. Mengikuti jejak ayahnya, Reza berusaha agar Wayang Golek semakin diterima masyarakat Betawi sebagai bagian dari keseniannya.

Dialog Naskah Drama Cerita Rakyat Betawi: Download

Hingga saat ini Wayang Golek Betawi hadir sebagai pameran seni yang mendidik dan menghibur serta melahirkan generasi dalang berbakat. Bagaimana, tertarik menonton Wayang Golek Betawi? Si Pitung (lahir Rawa Belong, Palmera, Batavia, Belanda Timur (sekarang Jakarta, Indonesia), 1866 – Kabupaten Tanah Abang, Batavia, Hindia Timur, 1893; ejaan lama: Si Pitoeng) atau Pitung adalah orang Batavia abad ke-19. , adalah seorang pahlawan Betawi dari Hindia Belanda (sekarang Jakarta, Indonesia). Tindakannya telah memunculkan berbagai legenda tentang kehidupan, petualangan, dan kematiannya.

Baca juga  Energi Listrik Disalurkan Ke Konsumen Melalui

Bin Pitung lahir pada tahun 1866 di desa Pengumben, sebuah daerah kumuh di Rawabelong dekat Stasiun Palmera yang sekarang. Putra keempat dari Bang Piung dan Mbak Pina

Nama aslinya adalah Salihoen. Menurut sejarah lisan, julukan “Si Pitung” berasal dari ungkapan Jawa “pituan yangbilan” yang berarti “tujuh orang sahabat yang saling membantu”.

Cerita Si Pitung yang beredar di masyarakat umumnya ada tiga versi, yaitu versi Indonesia, Belanda, dan Cina. Masing-masing versi mengedepankan kepribadian Si Pitun dengan penilaian tersendiri. Si Pitung dipuji sebagai pahlawan dalam versi Indonesia, namun dikritik sebagai penjahat dalam versi Belanda.

Journal: Jejak Si Pitung, Pendekar Betawi

Hikayat Si Pitung masih diceritakan oleh masyarakat Indonesia hingga kini sehingga menjadi bagian dari cerita rakyat dan warisan budaya Betawi dan Indonesia secara keseluruhan. Hikayat Si Pitung kadang-kadang diceritakan dalam bentuk rangak (sejenis balada), puisi, atau cerita lenong. Dalam versi Kosasi (1992), Si Pitung digambarkan sebagai sosok tak kenal takut yang menjadi teladan bagi masyarakat, umat Islam yang taat, dan pembela keadilan sosial.

Menurut van Til (1996), Si Pitung adalah seorang penjahat. Cerita bermula ketika Si Pitung menjual seekor kambing di pasar Tanah Abang, yang kemudian dicuri oleh pencuri (Beras, Jih dan Jampang) dan pemilik rumah (Si Homer menurut Si Pitung versi film tahun 1970). Xi Pitung pulang dengan tangan kosong, namun Xi Pitung hanya tersenyum dan menjawab bahwa dirinya telah dirampok. Ayah Pitung yang marah kemudian meminta Pitung mencari uang tersebut dan akhirnya menemukannya kembali. Namun para pencuri yang disebut “bau” itu mengajak Pitung untuk bergabung dengan mereka sebagai bajak laut dan menjadi pemimpin mereka. Awalnya Pitung menolak, namun akhirnya Pitung pun ikut. Legenda yang diceritakan dalam film Si Pitung, Pitung dan kawanannya menggunakan cara yang “pintar” untuk menyamar menjadi pejabat pemerintah Belanda (dalam versi film Si Pitung, Pitung disebut “Demang Meister Cornelis” – wilayah Meister. Cornelis Saat ini dikenal sebagai Jatinegara, yang merupakan bagian dari kota Jakarta Timur – dan Ji-ih “Opas”). Setelah itu, ia menipu Haji Saipuddin dengan surat yang memintanya untuk menitipkan uang tersebut kepada Demang Meister Cornelis. Pitung mengatakan, uang untuk pencurian itu terkendali. Haji Saipuddin mengiyakan, kemudian Pitung dan kelompoknya menarik uang tersebut.

Akibatnya, Pitung dan kawanannya lolos dari “Kompi”. Hal ini menarik perhatian seorang komisaris polisi bernama Van Hen (Shut van Hen, van Heina, Shotena atau Tuan Sekothena). Secara resmi, menurut Van Til (1996), petugas polisi A.V. Van bertugas di Batavia pada tahun 1888-1912. Menurut catatan kepolisian Belanda, van Hein memulai karirnya sebagai pegawai administrasi di pemerintahan Belanda, kemudian bekerja sebagai wakil kehutanan dan polisi di berbagai lokasi di Indonesia. Setelah kembali ke Eropa untuk memulihkan kesehatan, Van Hin jatuh sakit parah. Pada akhir tahun 1880-an, van Heene menjadi petugas polisi di Batavia (Stambock van Burgerlijke Ambatenaren in Nederlandsch-Indie en Governments Marine, ARA (Igemeen Rijksarchief), Den Haag, Register TF 274). Wang segera memburu Xi Pitung secara membabi buta. Ia akhirnya berhasil menangkap Si Pitung, namun kemudian Si Pitung Ka-Demangan berhasil lolos dari tahanan Meister Cornelis. Van Til (1996) menyatakan bahwa Si Pitung mampu melarikan diri dengan kekuatan gaib, namun menurut versi film Si Pitung (1970), Si Pitung melarikan diri dengan menggunakan tenaga dalam.

Baca juga  Sebutkan Manfaat Melestarikan Keragaman Budaya Bagi Pariwisata

Ia kemudian menekan Haji Naiping (guru Si Pitung) untuk mengungkap rahasia kesaktian Pitung. Akhirnya kesaktian tersebut ditemukan dalam bentuk “jimat” untuk menaklukkan Hine Si Pitung lebih cepat. Versi lain mengatakan bahwa Pitung dikhianati oleh teman-temannya sendiri (kecuali DG-ih), meskipun kebenaran versi ini patut dipertanyakan. Namun menurut film Si Pitung versi Banteng Betawi (1971), ia dikhianati oleh Somad yang menceritakan kelemahan Pitung dalam mengambil “jimatnya”. Cerita lain mengatakan bahwa Pitung mengambil “jimat keris” miliknya yang melemahkan mantranya. Versi lain mengatakan bahwa kesaktian Pitung hilang setelah ia memotong rambutnya, dan versi lain mengatakan kesaktiannya hilang karena ada yang melemparkan telur ke arahnya. Pada akhirnya Pitung terbunuh oleh peluru Hain (berdasarkan versi film Si Pitung, Pitung terbunuh oleh peluru emas). Sepeninggal Xi Pitung, makamnya dijaga oleh tentara karena mereka yakin Xi Pitung akan bangkit dari kuburnya.

Mengenal Sejarah Si Pitung Dari Museum Kebaharian Jakarta Utara Halaman 1

Si Pitung benar-benar perampok. Ada kemungkinan Haji Samsuddin dipukuli saat itu. Dalam istilah sekarang, Pitung adalah penjahat dan buronan pemerintah. Pitung itu buruk. Tugasnya adalah merampok dan merampok orang-orang kaya. Kabarnya, hasil perampokan dibagikan kepada masyarakat miskin, namun kenyataannya tidak demikian. Kemana para penjarah rela membagi hasil jarahannya secara cuma-cuma? Si Pitung dikabarkan menyumbangkan uangnya ke masjid. Saat itu masjid hanya ada di Pekojan, Luar Batang, dan Kampong Sawa. Tidak ada bukti bahwa Pitung menyumbang ke sana.’

Pitung, Robin Hood versi Betawi, diproduseri oleh Luqman Karmani (hingga 1996). Karamani menulis novel “Si Pitung”. Dalam novel ini Xi Pitung dikisahkan sebagai pahlawan sosial. Menurut Rahmat Ali, ‘Si Pitung dikenal sebagai bandit seperti tokoh dalam cerita Betawi kuno, namun ia adalah hasil perampokan.

Kalung si pitung, jimat si pitung, motor si pitung, baju adat si pitung, komik si pitung, cerita dongeng si pitung, peci si pitung, pakaian si pitung, kostum si pitung, si pitung, golok si pitung, makam si pitung