Pertumbuhan Air Yang Tidak Terkendali

Pertumbuhan Air Yang Tidak Terkendali – Petugas UPK Dinas Air menanam eceng gondok (Eichhornia crassipes) di hulu Kali Inlet 3 di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara pada Selasa (4/12/2018). Pemerintah Kota Jakarta Utara sedang bereksperimen dengan penggunaan eceng gondok untuk naturalisasi Kali Inlet 3, karena diyakini mampu menyerap partikel, menjernihkan air, dan meningkatkan kualitas air. ANTARA FOTO/Indrianto Eco Suvarso/Fok.

Jakarta (ANTARA News) – Pencemaran sungai dan danau kini banyak terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Berbagai cara dan upaya telah dilakukan, namun permasalahan ini masih tetap menjadi permasalahan yang serius.

Pertumbuhan Air Yang Tidak Terkendali

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menentangnya. Pada 13 sungai yang mengalir di wilayah Jakarta, pencemaran yang terlihat biasanya disebabkan oleh limbah perkantoran, industri, dan rumah tangga.

Bupati Bogor Kunjungan Ke Prancis Jajaki Kerja Sama Air Bersih

Tidak perlu teknologi, ada masalah air di sungai-sungai di Jakarta dan kota-kota lain, pencemaran sungai atau danau terlihat dengan mata telanjang. Air yang keruh bahkan hitam sudah lebih dari cukup untuk dianggap tercemar.

Apalagi polusi disertai dengan bau yang tidak sedap. Jika meluap, air sungai selain berbau tidak sedap, juga kotor.

Kekhawatiran terbesarnya adalah sungai-sungai di DKI tercemar tidak hanya oleh limbah cair domestik, industri, dan perkantoran. Sampah plastik sudah lama menjadi masalah di 13 sungai yang mengalir ke Teluk Jakarta di Jakarta Utara.

Meski demikian, Pemprov DKI Jakarta diyakini tidak akan tinggal diam menyikapi hal tersebut. Salah satu caranya adalah dengan menguji penggunaan tanaman eceng gondok untuk menjernihkan air yang tercemar.

Permasalahan Yang Timbul Akibat Pertumbuhan Kota Tanpa Tata Kelola Yang Baik

Eceng gondok dengan nama latin “Eichhornia crassipes” merupakan tumbuhan terapung yang banyak tumbuh di sungai, rawa, dan danau. Tumbuhan liar ini mempunyai pertumbuhan yang cepat, luas dan dapat tumbuh di air yang keruh atau kotor.

Saya kurang tahu sejarah dan alasan pemberian nama tanaman ini “eceng gondok” di Indonesia. Tentu saja tanaman ini bukan tanaman asli kepulauan Indonesia.

Baca juga  Bentuk Kerjasama Asean Dalam Bidang Olahraga Diwujudkan Dengan Mengadakan

Catatan tersebut menyebutkan bahwa eceng gondok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh ilmuwan Carl Friedrich Philipp von Martius. Ia adalah seorang ahli botani Jerman yang menemukan tanaman ini pada tahun 1824 saat melakukan perjalanan di Sungai Amazon di Brazil.

Data dan laporan sejarah tentang eceng gondok baru sampai pada tahap itu. Entah bagaimana tanaman ini bisa begitu banyak dan menyebar ke seluruh Indonesia untuk pertama kalinya.

Kegiatan Padat Karya Tunai Dd (pkt 2022) Membersihkan Saluran Air Tersier Desa Gempolan

Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta menguji sampel air yang disaring dari tanaman eceng gondok di saluran penghubung Waduk Santer Utara 3 di Jakarta Utara, Senin (7/1/2019). Para pejabat menguji dua parameter untuk mengukur kualitas air. (ANTARA News/Devi Nindy)

Selama ini eceng gondok tercatat dalam dua cara. Pertama, pertumbuhan yang cepat menyebabkan cepatnya penutupan kolam atau perairan. Oleh karena itu, eceng gondok terkadang dianggap sebagai tanaman pengganggu atau gulma.

Tanaman ini juga terlihat menghambat aliran air dan menimbulkan lumpur akibat membusuknya seluruh batangnya, yang kemudian mengendap di dasar air.

Kalau dikatakan menghambat aliran air, sebenarnya karena komposisi airnya sering disertai sampah. Puing-puing, termasuk plastik, mengenai tanaman eceng gondok sehingga menghalangi aliran air.

Jerit Tangis Evan (7th) Pengidap Kanker Lympoma Yang Terus Menggema

Sebab, aliran air sebenarnya terhambat bukan hanya karena keberadaan eceng gondok, tapi juga karena adanya sampah. Hal ini dikarenakan eceng gondok mengapung dan mampu beradaptasi dengan ketinggian air.

Namun pertumbuhannya yang pesat menyebabkan permukaan air tertutup sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai dasar perairan. Akibatnya, kandungan oksigen pada air tempat tumbuhnya eceng gondok dinilai tidak mencukupi untuk pertumbuhan ikan.

Sebaliknya, kondisi ini justru mendorong tumbuhnya nyamuk. Sedangkan pendangkalan terjadi akibat pembusukan eceng gondok dan juga pengambilan air akibat cepatnya penyerapan oleh pertumbuhan tanaman.

Kedua, terapung memiliki akar yang langsung masuk ke dalam air untuk menyerap sumber pertumbuhan. Air yang kotor mempunyai potensi yang baik untuk pertumbuhan eceng gondok.

Bi: Inflasi Di Lampung Pada Akhir Tahun Masih Terkendali

Tanaman ini juga ternyata memiliki kemampuan menyerap polutan dan bahan kimia dari limbah industri, perkantoran, dan rumah tangga yang dibuang ke aliran air. Polutan dan bahan kimia dalam limbah berasal dari limbah produksi, aktivitas rumah tangga dan kantor seperti sabun, pembersih dan berbagai deterjen.

Limbah dibuang ke saluran pembuangan atau sistem drainase, yang masuk ke saluran air (tali). Seiring berjalannya waktu, aliran di saluran pembuangan atau sistem drainase menjadi berbau busuk sehingga menyebabkan rasa gatal dan iritasi kulit serta berubah menjadi hitam.

Begitulah sungai-sungai yang melintasi Metropolitan Jakarta. Namun Pemprov DKI Jakarta diyakini masih belum akan menyetujui kondisi tersebut.

Baca juga  Perbedaan Tinjauan Pustaka Dan Landasan Teori

Upaya pemanfaatan eceng gondok untuk memerangi pencemaran sungai memang sederhana, namun diharapkan mampu mengatasi permasalahan pencemaran air sungai. DKI kini tengah menjajaki pembangunan instalasi pengolahan air di beberapa lokasi sebagai penyaring polutan dan bahan kimia pada air sungai tersebut.

Walkable City Untuk Kota Berkelanjutan Dengan Emisi Nol Karbon

Salah satunya di Waduk Santer Utara. Arah yang dihasilkan dari pengujian ini adalah air menjadi lebih bersih dari bahan kimia dan polutan yang mencemari sungai dan waduk.

Meski ada pihak yang skeptis karena belum pernah dilakukan, namun DKI nampaknya serius melakukannya. Keraguan ini juga didasarkan pada pengalaman daerah lain.

Salah satunya adalah eceng gondok di Rawa Pening, Semarang, Jawa Tengah. Pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali di lahan basah ini berdampak buruk terhadap potensi pengembangan pariwisata.

Kemudian diregenerasi dan dinormalisasi sehingga bebas eceng gondok. Permasalahannya sebenarnya bukan pada peran eceng gondok dalam membersihkan polutan dan bahan kimia, namun dalam mengendalikan pertumbuhannya sehingga terlihat seperti rumput liar yang merusak rawa.

Sedikit Diolah, Banyak Cemarnya Buruknya Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga Indonesia

DKI nampaknya masih mempertimbangkan eceng gondok sebagai tanaman potensial untuk mengatasi pencemaran sungai. Jadi uji coba dimulai pada minggu pertama bulan Desember 2018.

Sisi negatif eceng gondok diyakini dapat diatasi dengan upaya pengendalian. Oleh karena itu, uji coba ini fokus untuk mencari dan menguji manfaat eceng gondok.

Misalnya, eceng gondok tidak boleh tumbuh sembarangan di semua sisi sungai dan waduk, namun dibuat pembatas agar tidak tumbuh di luar kendali. Mungkin ini seperti penawanan; Ada areal dengan ukuran tertentu yang sengaja disediakan agar eceng gondok bisa tumbuh, namun pertumbuhannya tetap terkendali.

Kalau kita tidak punya kemampuan mengendalikan pertumbuhannya, maka terjadi di berbagai daerah. Artinya, menutupi permukaan rawa, sungai, waduk, dan danau akibat eceng gondok.

Mohon Bantuannya Soal Nomor 1 10.besok Ngumpulnya!!

Pasalnya, eceng gondok tumbuh sangat cepat sehingga mampu menutupi permukaan air dalam waktu singkat. DKI ingin dapat mengendalikan invasi dan perluasan pabrik ini serta menemukan cara yang tepat untuk mengatasi pencemaran air sungai dan waduk.

Beberapa hari lalu, petugas Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta melakukan uji air perdana filter tanaman eceng gondok pada saluran yang menghubungkan 3 saluran masuk Waduk Santer Utara. Lokasi ini merupakan lokasi uji coba beberapa usulan.

Menurut Lambas Sigalinging, Kepala Seksi Pelaksana Kerja Suku Dinas Air Jakarta Utara, air di kawasan itu diuji kualitas airnya satu bulan setelah tanaman eceng gondok ditanam. Kegiatan ini dilakukan bekerjasama dengan LLHD untuk menguji kualitas air setelah penanaman eceng gondok.

Baca juga  Bak Lompatan Pada Lompat Jauh Sebaiknya Diatas

Setelah sebulan penanaman eceng gondok, airnya diuji di laboratorium untuk mendapatkan data kualitas air yang dihasilkan. Hasilnya diperkirakan akan diumumkan dalam dua minggu ke depan

Torang Pe Apbn: Kinerja Positif Apbn 2022, Wujudkan Perekonomian Yang Terkendali

Pengujian akan dilakukan secara berkala yaitu sebulan sekali selama tiga periode setelah penanaman eceng gondok mulai tanggal 7 Desember 2018.

Secara kasat mata, tampak terjadi perubahan signifikan pada perairan di kawasan ini. Yang semula berbau tidak sedap dan menyengat kini menjadi tidak berbau sama sekali.

Selain tidak adanya bau, permulaan air di sana juga bisa dilihat dengan mata telanjang, yang merupakan perubahan yang sangat signifikan. Airnya terlihat lebih jernih.

LLHD Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta mengambil sampel air di tiga titik, yakni dari titik awal hulu, titik filter eceng gondok pertama, dan titik filter eceng gondok terakhir berukuran 40×11 meter. Hal ini dimaksudkan untuk memantau seberapa luas jangkauan alat penjernih air yang mampu menyaring kandungan zat pencemar pada limbah yang ada di air sungai.

Pertumbuhan Ekonomi Sulsel Solid, Inflasi Terkendali

. Pengujian kemudian diulangi selama kurang lebih 14 hari di laboratorium. Hasil pengujian tersebut akan digunakan untuk menginformasikan upaya penjernihan air yang akan diulangi di Jakarta, termasuk rencana penerapannya di Sungai Senteng.

Laboratorium Lingkungan Hidup Daerah (LLHD) Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada Senin (7/1/2019) melakukan uji coba air hasil saringan tanaman eceng gondok pertama pada saluran penghubung Inlet Laboratorium Waduk Sunter Utara 3. (ANTARA News/Devi Nindy)

Dalam pengujian tersebut, sampel air saringan tanaman eceng gondok di saluran penghubung Inlet Waduk Sunter 3, Jakarta Utara, Jakarta Utara, diuji dua parameter penting untuk mengukur kualitas air. Pengujian laboratorium akan memberikan Anda data mengenai kualitas air yang dihasilkan dari pengujian ini.

Kelompok Analisis Mikrobiologi LLHD Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta Anita Andrian menjelaskan, diperlukan pengukuran kimia dan mikrobiologi untuk melihat efektivitas eceng gondok di aliran air. Dalam proses ini, air diambil dan kimia serta mikrobiologinya diukur.

Talkshow Kesehatan

Yaitu in situ berupa oksigen terlarut, suhu, tingkat keasaman dan salinitas. Parameter BOD (Biological Oxygen Demand) juga harus diperiksa di laboratorium.

Pemeriksaan ini juga mencakup pengukuran aliran air yang ternyata sangat rendah sehingga alirannya lambat. Pengujian dilakukan dengan mengambil sampel dua liter air untuk parameter kimia dan satu botol berisi 100 mililiter air untuk pengukuran mikrobiologi.

Anita mengatakan, kualitas air eceng gondok yang disaring tidak mengalami banyak perubahan dibandingkan hari pertama penanaman. “Ada perubahan, tapi kecil, hanya signifikan jika dilakukan uji mikrobiologi,” ujarnya.

Namun, perubahan kualitas air yang signifikan tidak dapat ditunjukkan hanya dengan uji lapangan saja. Perlu dilakukan beberapa uji laboratorium untuk mengetahui dampak eceng gondok pada saluran penghubung inlet 3 Waduk Santer Utara.

Pemkab Dan Satgas Citarum Harum Kembali Tertibkan Kja Di Waduk Jatiluhur

Proses uji coba dan pengujian masih berlangsung. Jika hal ini berhasil dan dibuktikan dengan hasil laboratorium, maka dapat dibuktikan bahwa eceng gondok memang dapat digunakan sebagai sarana penjernihan air yang tercemar.

Di depan

Pertumbuhan gigi yang tidak normal, emosi yang tidak terkendali, contoh polutan di air yang dapat menstimulasi pertumbuhan algae adalah, pertumbuhan gigi bungsu yang tidak normal, urine mengandung darah ginjal tidak berfungsi pada pertumbuhan sel yang tidak normal di dalam ginjal