Perasaan Simpati Terhadap Orang Lain Karena Kita Mampu

Perasaan Simpati Terhadap Orang Lain Karena Kita Mampu – Empati merupakan respon emosional yang timbul karena memahami keadaan emosional dan perasaan orang lain, yang sama dengan apa yang dirasakan orang lain.

Bentuk empati pada masyarakat Jawa adalah gotong royong dan ewuh-pekewuh. Gotong-royong artinya saling membantu dan berbuat kebaikan bersama tanpa pamrih. Salah satu rewang atau nyinim saya di pesta tetangga atau kerabat. Tradisi menafkahi atau membantu sesama tentu saja merupakan kegiatan yang sangat positif, khususnya bagi masyarakat Indonesia khususnya di Jawa sendiri yang sarat dengan budaya gotong royong, karena dengan gotong royong masyarakat dapat saling bekerja sama tanpa diskriminasi, sehingga menciptakan rasa saling membutuhkan dan membentuk persatuan yang kuat.

Perasaan Simpati Terhadap Orang Lain Karena Kita Mampu

Berdasarkan perkembangan zaman, remaja mulai meninggalkan budaya seperti tradisi Nyinom atau Rewang. Saat ini nilai empati dikalangan anak muda sudah mulai menurun, penurunan nilai empati sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal dan tempat bergaul.

Proses Sosial Dan Interaksi Sosial

Para remaja saat ini mulai meninggalkan budaya tersebut, misalnya mereka tidak menghormati orang yang lebih tua, maka hal yang paling terlihat adalah saling tolong-menolong. Ya, seperti keadaan remaja saat ini yang terkesan lebih cuek, lebih berwibawa dan tidak peduli dengan orang lain. Kondisi pandemi menciptakan empati bagi orang-orang di sekitar kita. Jika Anda melihat banyak orang membagikan makanan gratis setiap hari Jumat atau keesokan harinya. Ini adalah bentuk empati.

Rasul Petrus menasihati orang Kristen untuk menjadi “saudara dan saudari yang berpikiran tunggal, berpikiran sama, pengasih, penyayang dan rendah hati” (1 Petrus 3: 8). Rasul Paulus juga menganjurkan empati ketika dia mendesak rekan-rekan Kristennya untuk “bersukacita dengan orang yang bersukacita dan menangis dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15).

Empati terkait erat dengan simpati, tetapi lebih sempit dan lebih fokus, dan umumnya dianggap lebih pribadi. Welas asih, simpati dan empati semuanya berkaitan dengan perasaan senang (feeling) atas penderitaan orang lain. Empati sejati adalah perasaan ikut merasakan penderitaan orang lain. Sebagai orang Kristen, kita diperintahkan untuk mengasihi orang-orang terdekat kita dan mengasihi sesama orang percaya. Ada banyak contoh empati di dalam Alkitab, yaitu:

Matius 22:39; Dan hukum kedua, yang sama dengan ini, adalah: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. Yang kedua adalah seperti ini: Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri. 1 Petrus 4:8, Tetapi yang terpenting: benar-benar saling mengasihi, karena kasih menutupi banyak sekali dosa. Di atas segalanya, teruslah mengasihi satu sama lain dengan sungguh-sungguh, karena kasih menutupi banyak sekali dosa. Kita juga melihat teladan Tuhan Yesus yang selalu peka terhadap penderitaan orang lain. Matius memberi tahu kita bagaimana Yesus “melihat orang banyak dan merasa kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan tak berdaya, seperti domba yang tidak bergembala” (Matius 9:36).

Baca juga  Apakah Peranan Analisis Sumber Daya Dalam Sebuah Perencanaan Usaha

Kata Kata Bijak Tentang Belas Kasihan, Ajakan Menjadi Rendah Hati Dan Selalu Bersyukur

Tuhan paling baik dalam hal empati: “Karena hanya Dia yang tahu seperti apa hidup kita, pergumulan kita atau keinginan kita. Mari kita belajar bersama teman-teman bagaimana melatih diri kita untuk berbelas kasih dan peduli pada sesama. Saat ini kita masih berada di tengah pandemi, dengan keterbatasan aktivitas, waktu dan lainnya yang mengharuskan sebagian besar aktivitas kita berada di rumah. Ini bisa kita gunakan untuk belajar berempati di lingkungan keluarga kita, untuk saling membantu dengan saudara kita, atau untuk bekerja sama dengan masyarakat untuk membersihkan lingkungan kita, atau jika kita mendengar teman atau sahabat kita sedang berjuang, kita bisa berdoa untuk mereka. . .

Dengan empati, kita mengorbankan sebagian kesenangan kita, waktu kita, pikiran kita dan bahkan uang saku kita, tetapi itu tidak sebanding dengan kepuasan yang kita dapatkan. Marilah kita sama-sama mengikuti teladan Tuhan Yesus, sehingga ketika orang lain melihatnya, hidup kita diberkati.

“Biarlah dalam hidupmu bersama memiliki pikiran dan perasaan yang juga ada di dalam Kristus Yesus.” Filipi 2:5 “Terkadang yang Anda inginkan hanyalah telinga yang berempati; dia hanya harus berbicara. Hanya menawarkan telinga yang mendengarkan dan hati yang memahami penderitaan Anda bisa menjadi penghiburan yang luar biasa. — Roy T. Bennett

Pengertian kata empati terkadang disamakan dengan kata simpati. KBBI menjelaskan bahwa empati adalah keadaan mental yang menyebabkan seseorang merasa atau mengidentifikasi dengan orang atau kelompok lain dalam keadaan perasaan atau pemikiran yang sama. Sedangkan simpati berarti (1) kasih sayang; persetujuan (untuk); menyukai: (2) partisipasi dalam mengalami emosi orang lain (senang, sedih, dll.). Jadi keduanya berhubungan dengan emosi. Misalnya, ada perbedaan antara empati dan simpati: empati memiliki pemahaman yang lebih dalam dan lebih baik tentang orang lain.

Fresh Graduate & Fomo: 5 Kegiatan Untuk Upgrade Diri

Empati sebagaimana diungkapkan oleh Mashar Nugraha dkk (2017) merupakan salah satu aspek dari kecerdasan emosional. Aspek kecerdasan emosional adalah kesadaran diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, empati dan membangun hubungan dengan orang lain. Dengan kata lain, ketika anak diajari empati, secara tidak langsung mempengaruhi kecerdasan emosionalnya.

Tor Wager (2016) adalah seorang profesor psikologi dan ilmu saraf di CU-Boulder, dan dalam penelitiannya menjelaskan bahwa empati adalah proses kompromi sadar, bukan hanya proses otomatis dan naluriah. Sementara itu, Decety dan Cowell (2014) berpendapat bahwa empati dapat muncul dari berbagai proses interaksi manusia. Misalnya, proses emosional, yang mencakup keterampilan motivasional seperti tanggap terhadap perasaan orang lain, dan proses kognitif, seperti mampu mengambil sudut pandang orang lain.

Baca juga  Cara Membina Dan Membiasakan Komitmen Persatuan Di Lingkungan Masyarakat

Hoffman (1987) mengklaim bahwa empati anak berkembang dalam empat tahap yang berbeda, di mana setiap tahap membangun fondasi untuk tahap berikutnya. Itu dimulai dengan tahap “penularan emosional”, ketika perasaan seseorang menimbulkan respons emosional yang sama pada orang lain (atau pengamat). Anak-anak sangat emosional ketika mereka melihat reaksi orang lain.

Fase kedua adalah saat kita mulai mempertimbangkan perasaan orang lain, saat kita menyadari perasaan orang lain tetapi tidak mencerminkannya. Ketiga, tindakan prososial, dimana anak atau diri kita sebagai pengamat menyadari perasaan orang lain dan berperilaku menghibur orang lain. Terakhir, welas asih, sudah merasakan empati terhadap situasi hidup orang lain yang lebih luas daripada situasi mereka saat ini.

Perasaan Simpati Terhadap Orang Lain Karena Kita Mampu

Selain itu, (Fletcher-Watson & Bird, 2020) merangkum empat hasil dari proses empati. Langkah pertama adalah mengamati atau mengamati keadaan emosi orang lain. Sebelum Anda bereaksi, Anda harus terlebih dahulu mengetahui situasi orang tersebut, apa yang terjadi pada mereka. Langkah kedua adalah interpretasi yang benar dari keadaan emosi. Misalnya, jika Anda memiliki masalah, kira-kira bagaimana perasaan orang tersebut. Yang terkait dengan langkah sebelumnya.

Ketiga, untuk “merasakan” emosi yang sama. Saat kita melihat orang lain mengalami peristiwa dan mencoba memahami perasaan mereka, kita merasakan emosi yang sama dengan orang itu. Jika dia sedih, kita juga ikut sedih. Jika Anda kesal, kami mengerti. Terakhir, langkah 4, tanggapi perasaan itu. Begitu kita mengetahui perasaannya, dan kita merasakan hal yang sama, kita dapat menanggapi perasaan itu. Apa yang dapat kita lakukan untuk menjadikan orang itu lebih baik?

Selain 4 langkah di atas, Siwi menjelaskan pada tahun 1992 bahwa terdapat faktor-faktor yang dapat membuat individu lebih berempati, seperti orang tua, kepribadian, usia dan sosialisasi. Jika kita berbicara tentang pola asuh, maka jelas peran orang tua dalam mengajarkan nilai empati akan sangat penting, karena orang tua adalah nomor satu jangkauan anak. Untuk pertumbuhan dan perkembangan anak, bimbingan orang tua juga sangat diperlukan.

Dari segi kepribadian, orang dengan kepribadian tenang dan cenderung mawas diri biasanya memiliki kepekaan yang tinggi. Kepekaan tumbuh menjadi empati. Lalu ada faktor usia, biasanya semakin tua semakin banyak empati yang dimiliki. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa anak kecil pun bisa diajari kasih sayang. Ini berkaitan dengan usia mental seseorang, bukan usia biologisnya. Seiring bertambahnya usia, pengalaman hidup Anda meningkat dan Anda merasa semakin berempati.

Baca juga  Hasil Samping Jagung

Lebih Dari Merasa Kasihan, Ini Cara Jadi Pribadi Yang Lebih Berempati

Terakhir, sosialisasi. Semakin banyak Anda bersosialisasi, semakin banyak hal yang Anda ketahui, terutama tentang perasaan orang lain. Karena setiap orang berbeda, kenali karakteristik orang yang berbeda dan pahami mereka dengan lebih baik.

Tanpa empati, kita akan sulit memahami perasaan, motivasi, dan perilaku orang lain. Tanpa empati, sulit bagi kita untuk merespons emosi dengan benar, dan kita bisa salah membaca isyarat orang lain. Apalagi terkadang kita tidak bersikap seperti biasanya, misalnya kita menganggapnya sebagai lelucon atau bahkan sarkasme.

Berbicara tentang empati anak (Iis, 2012), dapat dipelajari melalui mendongeng. Dengan metode ini anak dapat belajar lebih baik dan menarik minat anak. Demikian juga proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan. Anak belajar tanpa merasa digurui.

Sebuah survei (Khasanah & Fauziah, 2020) juga menemukan bahwa tidak ada satu pun pola asuh terbaik di antara ketiga pola asuh tersebut. Namun, orang tua harus bisa mengkombinasikannya dengan pola asuh lainnya. Kurangnya pola asuh dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, pendidikan, jenis kelamin dan pekerjaan, sedangkan perilaku prososial dipengaruhi oleh keteladanan, sifat bawaan, kebiasaan, komunikasi dan jenis kelamin. Selanjutnya menurut (Brantasari, 2021), keikutsertaan ayah dalam pengasuhan yang bertanggung jawab terhadap peran orang tua juga akan memberikan pengaruh yang baik bagi perkembangan sosial anak, termasuk rasa empati. Pola asuh yang baik oleh ayah mempengaruhi kemampuan kognitif, akademik, psikologis-emosional dan interaksi anak dengan lingkungan sosialnya.

Pengertian Simpati Menurut Para Ahli, Ciri, Dan Contoh Sikapnya Yang Perlu Diketahui

Begitu juga dengan komitmen sang ayah terhadap kemampuan beradaptasi. Menurut (Nurhani dan Atika Putri, 2020), orang tua dengan partisipasi aktif memberikan pengaruh positif bagi anak, seperti kemampuan beradaptasi. Kemampuan beradaptasi adalah kemampuan individu untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri atau lingkungannya, seperti keluarga, teman, orang lain dan norma-norma lingkungan. Dengan kata lain, anak meniru kebiasaan orang tuanya, terutama ayahnya.

Decety J, Cowell JM. Hubungan rumit antara moralitas dan empati. Tren Cogn Sci. Juli 2014;18(7):337-9. doi: 10.1016/j. tics. 08/04/2014. PMID: 24972506. Brantasari, M. (2021).

Nurhani, S. dan Atika Putri, A. (2020). Keterlibatan ayah dalam pendidikan berpengaruh terhadap kemampuan beradaptasi anak usia 4-6 tahun 5 Contoh ungkapan empati dan simpati dalam kehidupan sehari-hari serta perbedaannya – Ungkapan empati dan simpati pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Keduanya adalah sikap yang dibutuhkan manusia dalam hidup

Sindiran kata kata hargailah perasaan orang lain, ketika kita diremehkan orang lain, cara mengetahui perasaan orang lain terhadap kita, belajar menghargai perasaan orang lain, memahami perasaan orang lain, seni membaca pikiran dan perasaan orang lain, doa untuk orang jahat terhadap kita, kata kata menghargai perasaan orang lain, cara membuat orang peka terhadap perasaan kita, nunchi seni membaca pikiran dan perasaan orang lain, cara mengatasi rasa takut terhadap orang lain, peka terhadap perasaan orang lain