Jenis Narkoba Yang Memberikan Efek Memperlambat Kerja Sistem Saraf Adalah

Jenis Narkoba Yang Memberikan Efek Memperlambat Kerja Sistem Saraf Adalah – Narkotika merupakan bagian dari NAPZA yang merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif. NAPZA sendiri merupakan zat yang mempengaruhi sistem saraf pusat bila diberikan kepada manusia atau hewan.

Ketika sistem saraf pusat terpengaruh oleh bahan kimia ini, perasaan dan pikiran seseorang berubah. Modul referensi

Jenis Narkoba Yang Memberikan Efek Memperlambat Kerja Sistem Saraf Adalah

Baik obat-obatan narkotika, psikotropika, maupun zat adiktif lainnya diatur oleh negara. Bahkan beberapa jenis obat-obatan terlarang dan penggunaannya dilarang.

Mengenal Lebih Dalam Narkoba |

Narkotika merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat-Obatan Berbahaya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa narkotika adalah zat yang dapat berupa narkotika yang menyebabkan penurunan kesadaran atau perubahan keadaan kesadaran bila digunakan.

Zat ini juga dapat menghilangkan rasa dan mengurangi rasa nyeri atau perih. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Narkoba (BNN), penggunaan obat tanpa resep dokter dapat menimbulkan kecanduan (UU No. 35/2009 tentang Narkoba).

Jenis zat narkotika yang termasuk dalam golongan I adalah zat narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan. Tidak dimaksudkan untuk terapi atau pengobatan dan berpotensi menimbulkan kecanduan. Berikut beberapa zat yang tergolong narkotika golongan I:

Penggunaan kokain (turunannya Putaw) secara kronis dapat menimbulkan efek paranoid, halusinasi, dan penurunan rasa percaya diri. Kokain juga merusak saraf otak, merusak sistem pernafasan dan bisa berakibat fatal jika dosisnya terlalu tinggi.

Jenis Jenis Narkoba Dan Dampak Buruknya

Heroin (turunan morfin yang juga disebut putau) awalnya digunakan untuk mengobati kecanduan morfin. Namun, efek kecanduan heroin lebih buruk dibandingkan morfin.

Awalnya berasal dari tumbuhan, ganja digunakan sebagai relaksan pada keadaan mabuk (intoksikasi ringan). Namun karena menyebabkan ketergantungan mental, maka disalahgunakan. Efek lainnya adalah memperlambat otak, menyebabkan pengguna berpikir lambat, membuat pecandu menjadi bodoh.

Jenis narkotika yang termasuk golongan II mempunyai khasiat obat, namun merupakan pilihan terakhir dokter dan dapat digunakan dalam terapi. Kegunaan lainnya adalah untuk penelitian atau ilmu pengetahuan. Contoh golongan II adalah morfin.

Narkotika golongan III banyak digunakan untuk keperluan medis dan terapeutik atau penelitian. Kurang membuat ketagihan. Contoh kelompok III adalah kodein, untuk pengobatan nyeri sedang hingga berat. Penggunaan kodein dapat menyebabkan depresi pernapasan.

Baca juga  Apa Yang Menentukan Panjang Pendek Nada

Pembagian Golongan Narkoba & Psikotropika: Apa Saja Jenis Jenisnya?

Obat psikotropika berbeda dengan obat sintetik atau alami. Zat ini memiliki sifat psikoaktif dan mempengaruhi sistem saraf pusat sehingga menyebabkan perubahan karakteristik pada aktivitas dan perilaku normal. (UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoba).

Zat psikotropika secara umum dibagi menjadi empat kelompok. Merujuk laman Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, empat kategori psikotropika tersebut adalah:

Psikotropika golongan I termasuk zat yang sangat adiktif dan belum diketahui manfaatnya secara medis. Untuk tujuan penelitian saja. Contoh psikotropika golongan I adalah LSD, STP, MDMA dan Ekstasi.

Psikotropika II merupakan zat yang mempunyai daya ketagihan dan manfaat yang kuat dalam bidang kedokteran dan penelitian. Psikotropika golongan I antara lain amfetamin, sabu, dan sabu.

Makalah Bahaya Narkoba Bagi Generasi Muda

Obat psikotropika kelas III bersifat adiktif sedang dan sering digunakan untuk pengobatan dan penelitian. Contoh psikotropika golongan III adalah Lumbil dan buprenorsin.

Obat psikotropika tipe IV merupakan kelompok obat psikotropika adiktif ringan dan hanya digunakan untuk pengobatan dan penelitian. Jenis psikotropika yang termasuk golongan IV misalnya nitrazepam (BC, Mogadon, Dumolide) dan diazepam. Fungsi utama zat ini adalah menyebabkan “perubahan pada otak” dan sekaligus menyebabkan “perubahan pada otak”. Persepsi, “suasana hati”, “kesadaran”, “kognisi” atau “perilaku”.

Obat psikedelik adalah sekelompok obat yang menyebabkan halusinasi. Karena efek tersebut, obat psikedelik termasuk dalam kelompok halusinogen. Obat ini tergolong obat berbahaya karena tingginya risiko penyalahgunaan dan kecanduan.

Obat-obatan psikedelik bekerja dengan mengubah fungsi bahan kimia otak, atau neurotransmiter, yang bertanggung jawab mengendalikan suasana hati, emosi, pikiran, ingatan, penglihatan, sentuhan, dan perilaku seksual seseorang.

Buku Anti Napza Raih Prestasi Tanpa Narkoba

Oleh karena itu, obat-obatan psikedelik dapat menimbulkan efek seperti euforia atau perasaan bahagia, gangguan berpikir, dan perubahan sensasi pada kelima indera pada orang yang menggunakannya. Narkoba psikedelik juga dapat menyebabkan penggunanya berhalusinasi.

Istilah pengobatan psikedelik pertama kali dikemukakan pada tahun 1956 oleh seorang psikiater bernama Humphrey Osmond. Psikiater menemukan bahwa orang yang menggunakan zat tertentu mengalami gejala halusinasi dan perubahan suasana hati. Oleh karena itu substansi ini disebut substansi mental.

Awalnya, zat atau obat psikedelik digunakan untuk mengobati berbagai penyakit mental, termasuk depresi, gangguan stres pascatrauma (PTSD), dan gangguan kecemasan.

Namun seiring berjalannya waktu, obat ini banyak digunakan oleh orang-orang yang ingin menikmati perasaan atau euforia tertentu, karena efeknya dapat memabukkan dan menimbulkan suasana hati yang “bahagia”. Obat-obatan psikedelik banyak digunakan di kalangan remaja.

Jiptummpp Gdl Rusnadibak 50671 3 Babii

Secara hukum, obat-obatan psikoaktif tergolong obat-obatan terlarang. Di Indonesia, obat ini tergolong narkotika golongan I atau memiliki risiko kecanduan yang tinggi. Obat psikedelik juga dapat dikategorikan ke dalam golongan obat psikotropika.

Baca juga  Sebutkan Macam-macam Pola Penyerangan Dalam Permainan Bola Voli

Obat-obatan ini sebagian besar mempunyai efek baik dan tentu saja efek samping yang sangat berbahaya.

Beberapa kategori obat psikoaktif yang penting secara terapeutik diresepkan oleh dokter dan profesional medis lainnya.

Beberapa obat psikedelik diproduksi secara sintetis, namun ada pula yang diproduksi secara alami dari tanaman tertentu. Golongan psikedelik atau narkotika mencakup beberapa jenis bahan kimia dan tumbuhan, antara lain:

Tips Detoksifikasi Tubuh Setelah Berhenti Pakai Narkoba

Lysergic acid diethylamide (LSD) terbuat dari asam lisergat, yaitu intisari jamur yang tumbuh di rumput gandum dan jenis biji-bijian tertentu. LSD tergolong obat psikedelik dengan efek halusinasi paling kuat. Efek halusinasi LSD bisa terjadi dalam waktu satu jam setelah mengonsumsi obat dan bisa bertahan hingga 12 jam.

Obat ini berbahaya dan biasanya berbentuk bubuk atau cairan bening, tidak berbau dan tidak berwarna. Selain itu tersedia juga dalam bentuk tablet berwarna, pil, kapsul dan agar-agar.

Terdapat lebih dari 180 spesies jamur yang tumbuh secara alami dan mengandung zat psikedelik psilocybin. Salah satu jenis jamur yang terkenal adalah jamur ajaib. Jamur hidup dan tumbuh di kotoran beberapa hewan.

Jamur ajaib dapat menghasilkan efek psikedelik setelah 1-2 jam pemakaian dengan efek yang mampu bertahan hingga 6 jam.

Pengaruh Narkoba Pada Otak Dan Sistem Saraf Manusia

DMT, juga dikenal sebagai Dimitri, adalah zat psikedelik yang ditemukan pada tanaman tertentu yang tumbuh di hutan hujan Amazon. Ayahuasca adalah nama teh yang terbuat dari ekstrak tumbuhan.

Selain itu merupakan DMT buatan berupa bubuk kristal berwarna putih dan digunakan untuk pengasapan. Efek halusinasi DMT biasanya berumur pendek, berlangsung sekitar satu jam.

Mescaline adalah zat psikoaktif alami yang ditemukan di kaktus peyote. Kaktus ini disebut kaktus ajaib dan efeknya mirip dengan LSD. Mescaline dapat ditemukan dalam bentuk bahan kimia sintetik atau buatan selain kaktus. Efek psikedelik mescaline bisa bertahan hingga 12 jam.

Selain obat-obatan di atas, beberapa literatur mengklasifikasikan ekstasi sebagai obat psikoaktif. Namun, efek halusinogen ekstasi lebih lemah dibandingkan jenis obat psikoaktif lainnya. Artinya, pengguna ekstasi tidak selalu mengalami halusinasi.

Jenis Jenis Narkoba Dan Bahayanya Bagi Tubuh, Efeknya Mengerikan

Apapun jenisnya, obat psikedelik dalam dosis tertentu bisa menyebabkan halusinasi. Efek halusinasi ini sering disebut dengan “tabrakan”. Pengalaman “high” yang dialami setiap pengguna bisa berbeda-beda tergantung keadaan psikologis dan suasana tempat konsumsi obat psikedelik tersebut.

Misalnya jika digunakan di pesta atau konser musik, efek obat psikedelik bisa bertahan lebih lama. Selain halusinasi, obat psikedelik dapat menimbulkan beragam efek lain, antara lain:

Baca juga  Perubahan Yang Ciri-cirinya Tampak Nyata Pada Tubuh Manusia Disebut

Bukan hal yang aneh jika efek samping obat ini berakhir dengan tragedi, seperti pengguna melompat keluar jendela karena mengira akan terbang sehingga menyebabkan cedera serius atau kematian.

Dengan penggunaan jangka panjang, obat psikedelik dapat menyebabkan gangguan jiwa seperti psikosis dan halusinasi terus-menerus. Dalam beberapa kasus, gangguan ini bahkan dapat terjadi pada pengguna obat psikedelik yang baru pertama kali.

Tentang Zat Adiktif Dan Bahayanya Bagi Tubuh

Penyalahgunaan obat-obatan psikedelik tidak hanya berbahaya bagi kesehatan fisik, tetapi juga dapat dikenakan sanksi dan hukuman berdasarkan hukum Indonesia.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009, setiap orang yang memiliki, menggunakan, memproduksi, atau mengedarkan narkotika golongan I dipidana dengan pidana denda paling sedikit Rp 800 juta dan pidana penjara paling singkat 4 tahun.

Oleh karena itu, tidak disarankan untuk menggunakan obat psikedelik atau narkotika jenis apa pun tanpa anjuran dokter atau karena alasan medis tertentu.

Jika Anda mengalami efek mengganggu, ketergantungan, halusinasi terus-menerus, dan pikiran untuk bunuh diri setelah menggunakan obat-obatan psikedelik, temui psikiater untuk mendapatkan pengobatan. (arsa)(UNODC) Pada tahun 2021, sekitar 275 juta orang di seluruh dunia akan menggunakan narkoba, dan lebih dari 36 juta orang akan menderita gangguan penggunaan narkoba.

Dampak Penyalahgunaan Narkobaterhadap Perekonomian Negara”

Di Indonesia sendiri, pertumbuhan pada tahun 2021 sebesar 0,15 persen atau 3,66 juta orang.

Efek obat pada otak dapat mempercepat atau memperlambat sistem saraf pusat dan fungsi utama tubuh seperti tekanan darah, pernapasan, detak jantung, dan suhu tubuh. Narkoba juga dapat berinteraksi dengan otak dan tubuh untuk mengubah suasana hati, emosi, dan perilaku penggunanya dengan mengubah kimia dan persepsi otak seseorang, sehingga memengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan dunia di sekitarnya.

> Dopamin – neurotransmitter ini berperan dalam mengatur suasana hati, meningkatkan kesenangan, dan terlibat dalam gerakan, perilaku, motivasi dan perhatian.

> Asam Gamma-aminobutyric (GABA) – bertindak sebagai obat penenang alami, mengurangi respons stres dan tingkat kecemasan serta memperlambat fungsi sistem saraf pusat.

Zat Non Narkotika Apa Yang Menurutmu Seharusnya Ilegal? Mengapa?

> Norepinefrin – Neurotransmitter yang mirip dengan adrenalin, sering disebut “hormon stres” karena mengaktifkan sistem saraf pusat sebagai respons terhadap tindakan “melawan atau lari”, memusatkan perhatian dan meningkatkan energi.

> Sistem limbik – berperan dalam membentuk perilaku dan mengelola emosi serta memungkinkan kita mengalami kebahagiaan.

> Korteks serebral – Dianggap sebagai “pusat berpikir” otak, korteks ini mengatur kemampuan memecahkan masalah, merencanakan, membuat keputusan, dan memproses informasi dari indera tubuh.

Bahan kimia psikoaktif delta-9-tetrahydrocannabinol (TC) dalam ganja dapat mempengaruhi hipokampus, bagian otak yang mengontrol memori jangka pendek, otak kecil, dan ganglia basal, yang membantu mengontrol koordinasi dan pergerakan otot.

Hindari Narkotika Cerdaskan Generasi Muda Bangsa

Efek saraf kejepit di leher, efek dari saraf kejepit, efek saraf kejepit di pinggang, efek saraf kejepit di punggung, efek saraf terjepit, pengaruh narkoba terhadap sistem saraf, pengaruh narkoba terhadap sistem saraf manusia, efek narkoba, efek narkoba jenis sabu, efek samping saraf terjepit, efek saraf kejepit, efek saraf kejepit tulang belakang