Iringan Musik Internal Dapat Kita Temui Pada Tari

Iringan Musik Internal Dapat Kita Temui Pada Tari – Pekan Seni Guru (PSG) 2012 yang digagas Dinas Kebudayaan dan Pendidikan Provinsi Jawa Timur ini sukses besar. Kesuksesan acara ini tidak akan terlaksana tanpa peran serta para guru seni budaya dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur, serta investasi, kerja keras dan kegigihan para penyelenggara acara. Namun, bukan berarti acara tersebut tidak memiliki kekurangan. Dibandingkan dengan penyelenggaraan PSG pertama tahun 2011, PSG kedua mengalami kemajuan yang sangat pesat baik dari segi jumlah peserta (number of parties) maupun kualitas (keseriusan) yang terlibat dalam ajang ini. Jika PSG pertama digelar di Kabupaten Pamekasan, maka PSG kedua digelar di Surabaya. Acara PSG kedua ini dibagi menjadi tiga cabang seni: Festival Tari Guru, Festival Musik dan Seni Tradisional, serta Festival Pertunjukan Puisi dan Musik. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 8 November 2012 ini terutama dipusatkan di dua lokasi di kawasan Jalan Gentengkali Surabaya. Festival Musik Pertunjukan Puisi digelar di Gedung Graha Saba, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur, Jalan Gentengkali 33, dan dua festival lainnya dipusatkan di sekitar Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85. Festival Tari Guru PSG ke-2 digelar di Cak Durasim Bangunannya, terlihat sangat menarik. Panitia berupaya menyediakan infrastruktur untuk produksi panggung, sehingga semakin memungkinkan para penari yang bersemangat untuk menampilkan karya kreatif mereka. Festival ini diikuti 19 peserta dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur, yang merupakan cerminan karya kreatif para guru. Penyelenggara mengusung tema-tema yang berakar pada nilai-nilai lokal, menjadikan programnya beragam dan tidak membosankan. Ketentuan ini pun seolah memaksa para guru untuk mencoba mempelajari kembali nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di tempat mereka berada. Setelah menyaksikan pertunjukannya, saya menemukan bahwa banyak karya yang dihasilkan membawa nilai-nilai tersebut secara ekstrim dalam penciptaannya. Selain itu, bagi para guru, forum ini seolah menjadi wadah bagi mereka untuk mengungkapkan perasaannya terhadap pekerjaannya. Guru-guru yang sebagian besar waktunya mengerjakan tugas-tugas pembelajaran di kelas nampaknya sangat antusias dengan peluang-peluang kreatif kali ini, sehingga siapa pun yang menari atau berakting tercermin begitu antusiasnya dalam pengembangan media kreatifnya. Apalagi dalam perkembangan gerakannya, mereka seolah menginginkan akses terhadap ruang dan teknik yang tidak bisa diakses oleh pelakunya. Pertanyaannya, perlukah menciptakan koreografi dengan ide idealis tanpa memperhatikan kemampuan gerak penarinya? Tampaknya juga ada kelemahan umum dalam karyanya, yaitu eksplorasinya terhadap perkembangan gerakan yang tidak termotivasi. Artinya, selama proses kreatif, gerak-gerik disusun semata-mata berdasarkan bentuk dan bukan berdasarkan motivasi tematik atau isi yang berkaitan dengan misi tari. Pada akhirnya, ketegangan antara tema, aksi, dan musik bersifat independen dan hanya terdapat sedikit harmoni. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan kegiatan ini, tentunya akan memberikan dampak positif bagi pengembangan kemampuan dan kualitas profesional guru dalam penguasaan materi budaya dan seni. Jika demikian, maka kegiatan tersebut tetap harus diapresiasi tinggi dan selalu dievaluasi untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentunya mempunyai peran dalam hal ini sehingga diperlukan komitmen yang serius dan konsistensi dalam menjalankan kegiatan tersebut. Saya mengucapkan selamat kepada para guru atas keberhasilannya dan berharap pendidikan seni dan budaya dapat memberikan manfaat yang besar bagi bangsa dan mencerdaskan negeri yang kita cintai.

Baca juga  Jelaskan Hasil-hasil Perundingan Linggarjati

Fenomena yang berkembang di bisnis pertunjukan saat ini adalah kemasan selalu ditujukan pada estetika pertunjukan teater, bukan? Jawabannya tidak, karena sering kita melihat pertunjukan yang tidak dipentaskan di panggung proscenium. Di beberapa daerah yang tidak memiliki panggung proscenium, mereka masih mempunyai kebiasaan mengadakan pertunjukan di tempat “sementara” sendiri. Misalnya saja beberapa pertunjukan musik yang masih diadakan secara rutin, bahkan bisa dikatakan pertunjukan outdoor atau udara terbuka sedang menjamur. Dari sudut pandang ini, perkembangan seni pertunjukan kita nampaknya belum sampai pada titik yang perlu dibicarakan. Namun jika ditilik lebih jauh, sering kali kita melihat pertunjukan-pertunjukan, baik itu forum festival, kompetisi, maupun pertunjukan kelas mahasiswa dan produksi akhir di universitas-universitas kaya seni, cenderung menggunakan panggung proscenium—atau paling tidak menggunakan panggung. – sebagai panggung pertunjukan.

Iringan Musik Internal Dapat Kita Temui Pada Tari

Konsep panggung jenis ini biasanya ditandai dengan penonton menghadap ke arah yang sama (dan satu-satunya) dan menimbulkan jarak antara pemain dan penonton. Arena atau arena ini sebenarnya bukan milik seni kita. Awalnya karya seni kita hanya dihadirkan di venue bahkan lingkungan yang sangat akrab dengan penontonnya, yaitu di tengah-tengah venue, terlihat dari berbagai sisi. Sering tampil untuk hiburan perusahaan dan teman-teman dekatnya di Indonesia pada masa kolonial, Toniel mulai memperkenalkan bentuk pertunjukan panggung demi panggung. Perkembangan pertunjukan kami sepertinya banyak dipengaruhi oleh jenis panggung ini, khususnya seni wayang orang utan dari Wangu Nijaland. Tak hanya itu, kesenian rakyat yang banyak berkembang di pedesaan pun ikut terdampak meski sarana dan prasarana yang ada belum ideal. Perkembangan konsep teater ini juga didukung oleh sekolah-sekolah seni formal yang muncul pada saat itu. Konsep dan ilmu akting didatangkan dari Barat. Ternyata, hal ini berdampak pada kualitas artis kita. Banyak seniman pada masa itu yang sudah tidak terbiasa lagi dengan lingkungan tempat hobinya tumbuh. Tentu saja tidak ada yang salah dengan hal itu, namun akibatnya adalah dangkalnya nilai, sikap, dan visi kasih sayang. Banyak suara baik di forum resmi maupun tidak resmi yang mulai “kehilangan” seniman kita secara mental, emosional, dan intelektual, yang mereka kuasai hanyalah teknik dan fisik. Dari fenomena tersebut, bolehkah kita mencoba menemukan kembali potensi lingkungan sebagai sumber modal dalam proses berkesenian kita. Pada akhirnya, kita akan menemukan jati diri kita sebagai seniman dan mampu menghadapi keadaan yang membentuk estetika seni kita. Hal ini tentu menjadi wacana alternatif…

Baca juga  Sebutkan Hasil

Apa Tujuan Pembentukan Knip

Besutan adalah suatu bentuk kesenian yang ditemukan oleh seorang bernama Besutan dan berasal dari kota Jombang di Jawa Timur. Kesenian ini bermula dari kebiasaan Besut dalam melakukan pekerjaan sehari-hari yaitu pertunjukan jalanan. Besut selalu bercerita tentang permasalahan sosial dalam bentuk monolog, sambil selalu menampilkan dirinya sebagai biang keladi cerita tersebut. Selain dia, ada tokoh lain yang muncul sepanjang cerita, Paman Jamino, Rusmini dan Somo Gambar.

Dari fenomena kesenian tersebut, dua mahasiswa Unesa Sendratasik bernama Uut dan Vivin berusaha menciptakan sebuah pertunjukan tari yang diberi nama Besut Beset. Tak jauh dari kebiasaan Besut bercerita sendiri, kedua penari muda ini ingin menonjolkan perasaan Besut yang sudah tidak mendapat perhatian atau kasih sayang dari istrinya, Rusmini. Peradaban kapitalis modern dapat mempengaruhi dan bahkan mengubah sifat dan karakter masyarakat Rusmini, menjadikan mereka terpencil dan egois. Ketika segala sesuatunya mudah didapat atau didapat bagi Rusmini, mudah baginya untuk merelakan apa yang dimilikinya sebelumnya, bahkan suami tercinta sekalipun. Klimaks pertunjukan tari menggambarkan suasana hati Besut yang menyayat hati ketika istri tercinta meninggalkannya. Tampaknya, itulah pesan moral yang ingin disampaikan kedua seniman tari muda Unesa ini.

Selain menyampaikan pesan moral yang menarik, karya yang disusun berdasarkan konsep pertunjukan teatrikal ini juga meninggalkan kesan visual yang sangat spektakuler. Teknik gerak yang sangat baik dari para penari yang berjumlah 5 orang siswa ini memberikan kesan ruang tontonan yang bersih dan nyaman. Koreografi cermat yang mengekspresikan budaya seni Besutan memberikan kesan tari yang sangat unik. Begitu pula dengan bakat para penari yang begitu ekspresif pada karya tari ini sehingga membuat pertunjukan menjadi hidup. Susunan aksi yang dipadukan dengan musik, kostum, alat peraga, dan pemandangan dapat meninggalkan kesan yang jelas pada orang-orang, dan sangat efektif dalam mengekspresikan suasana dan peristiwa yang ingin diungkapkan.

Baca juga  Apa Perbedaan Tulang Betis Dan Tulang Kering Berdasarkan Ukurannya

Karya tari tersebut sengaja dikemas dalam rangka persiapan Pekan Seni Mahasiswa Nasional di Mataram yang diikuti oleh berbagai universitas se-Indonesia. Tari Besut Beset merupakan perwakilan BPSMI Jawa Timur di Peksiminas. Hasil dari acara ini adalah tari yang diberi nama “Besut Beset” berhasil meraih juara ketiga dari seluruh pertunjukan tari yang diikuti berbagai universitas di Indonesia.

Apa Yang Dimaksud Dengan Iringan Musik Internal

Tidak mudah untuk memberikan definisi atau pengertian yang tepat mengenai kata tari karena sifat dan keanekaragamannya yang sangat dinamis. Banyak tokoh tari yang berusaha memberikan pengertian atau definisi terhadap seni tari, namun hasilnya bervariasi dan sebagian besar dipengaruhi oleh latar belakang dan persepsi mereka terhadap seni tari itu sendiri. Hal ini dapat memberikan gambaran, dan siapa pun dapat menjelaskan pendapatnya tentang seni tari. Pada akhirnya batasan-batasan seni tari menjadi sangat subyektif. Namun, tentu saja setiap pendapat yang dikemukakan dapat dibenarkan oleh penciptanya.

John Martin dari Amerika menulis dalam bukunya “Modern Dance” bahwa tarian adalah gerakan. Untuk menggambarkan lebih lanjut, gerakan adalah inti dari tari, sebuah pengalaman fisik yang sangat mendasar dalam kehidupan manusia. Gerakan tidak hanya terdapat pada setiap denyut tubuh manusia dalam kehidupan sehari-hari, namun juga merupakan ekspresi dari seluruh pengalaman emosional manusia.

Kurt Sachs dari Jerman mengemukakan dalam bukunya “World Dance History” bahwa tari adalah gerakan berirama. Mengikuti definisi tersebut, Kurt Sacks memberikan tambahan pemahaman bahwa tari lebih dari sekedar gerak, karena gerak saja tidak cukup untuk memberikan jawaban terhadap makna tari. Menurutnya, gerak tarinya anggun, stilisasi, dan berirama. Dengan demikian, unsur ritme ditambahkan pada batas yang diciptakannya.

Sebaliknya, Kamaladevi Chattopadhyaya dari India memandang menari sebagai naluri, dorongan hati.

Media Indonesia 6 November 2021

Iringan tari, iringan tari adalah, pengertian musik iringan tari, iringan musik tari saman, download musik iringan tari tradisional, iringan musik tari jaipong, fungsi iringan tari, iringan musik tari kecak, iringan musik tari, iringan musik tari pendet, iringan musik tari balet, tari kecak menggunakan iringan